Basi_2: jumlah ideal bank atau perbankan ideal?

Standard

Saya tidak bermaksud menjadikan blog ini sebagai tempat pembuangan sampah: yang basi-basi ditulis….
Topik jumlah ideal bank sebenarnya isu lama, bahkan sejak krismon orang sudah ngomongin. Beberapa bulan terakhir, sempat  dibicarakan dalam kaitannya dengan Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Ada yang bilang lebih baik jumlah bank sedikit tapi bagus, kuat, punya kantor cabang dimana-mana di seluruh Indonesia dan bisa kasi layanan macam-macam. (Kompas cetak 1 Oktober 2012, halaman 18). Berita kemudian bergeser dari jumlah ideal bank menjadi peraturan mengenai modal bank  yang dikaitkan dengan kegiatan usaha. Kalau mau berkegiatan macam-macam, modal harus tinggi. Konon, aturan ini diterbitkan untuk memengaruhi jumlah bank, untuk mengarahkan industri perbankan pada tahapan konsolidasi. Terakhir ada berita, Bank Indonesia bisa menolak bank yang mau buka cabang  http://keuangan.kontan.co.id/news/bi-bisa-tolak-izin-buka-kantor-bank/2012/12/14 .
Apa benar kalau jumlah bank dikurangi, bank yang ada besar, bermodal kuat, dan punya kantor dimana-mana, layanan akan menjadi lebih banyak??

Isu basi…

Sama seperti masalah efisiensi bank di Indonesia, atau isu bailout Century (coretan saya sebelumnya), masalah jumlah ideal bank juga isu basi. Pembicaraan mengenai jumlah ideal bank setidaknya sudah jadi wacana sejak awal-awal krisis moneter http://www.tempo.co.id/ang/min/02/37/utama3.htm. Sejak itu banyak sekali angka diusulkan: 30an, 40an, 50an, 60an, 70an… Mirip seperti mencermati wajah dan badan ideal karena yang bersangkutan mau ikut “beauty contest”….Bedanya, the intelect yang menyebut jumlah ini biasanya tidak mengemukakan dasar perhitungan  atau “formula” (kalau ada) yang dipakai sehingga jumlah perbankan harus menciut segitu. Mungkin karena dasar perhitungan terlalu rumit untuk dipahami yang tidak masuk kelompok the intelect. Ada juga the intelect yang tidak mau menyebut berapa jumlah ideal bank…yang penting sedikit – ada yang bilang gitu http://www.infobanknews.com/2010/03/chatib-basri-jumlah-bank-di-indonesia-terlalu-banyak/ …yang penting bermanfaat – ada lagi yang berpendapat gitu http://m.bi.go.id/NR/rdonlyres/724D61DC-3A90-4EA4-8919-F7C6BC8939FE/7896/mencari_struktur_ideal_kompas1607.pdf

Biasanya mereka yang mengusulkan bank dikurangi mengemukakan argumentasi salah satunya adalah bank besar lebih efisien. Sebetulnya sejak dulu, bahkan sebelum krisis ekonomi 1997/1999,  perbankan Indonesia sudah didorong-dorong untuk merger supaya efisien (sekaligus mengurangi jumlah bank). Akan tetapi walaupun merger sudah dilakukan, toh inefisiensi masih tinggi. Ada juga yang beralasan, di Indonesia 80% aset perbankan dikuasai 20 bank besar. Sedangkan seratusan bank hanya menguasai sisanya. Sebetulnya, pola 20/80 (Pareto Law) itu ada dimana-mana. 20% pelaku industri menguasai 80% (atau mayoritas) pasar. Setau saya, perbankan Amerika, Australia juga begitu. Akan tetapi, walau bank-bank besar mendominasi di Amerika dan Australia, community bank tetap ada dan survive. Aneh??? Menurut saya tidak. Tiap orang punya situasi yang berbeda sehingga butuh jenis layanan bank yang berbeda.

Dengan berbagai argumentasi itulah, setau saya, sejak Arsitektur Perbankan Indonesia disusun pada tahun 2004, jumlah bank diarahkan untuk berkurang dari  133 sampai menjadi sekitar 35-58 bank dalam waktu 10-15 tahun (=target tahun 2014-2019). Lepas dari bagaimana magic number “jumlah ideal bank” itu didapat, mari dilihat dengan mengesampingkan emosi, seberapa cepat industri perbankan bisa diciutkan, seberapa cepat bank bisa dikurangi secara wajar/alami. Berikut ini saya dapat data perkembangan lembaga keuangan dunia 2004-2011 dari database IMF yang iseng-iseng lalu saya gambar:

Sumber: elibrary data IMF, database Financial Access Survey.

Ada beberapa “trivia” menarik mengenai data IMF ini.

Nampaknya sejak tahun 2004 ada “gerakan” mengumpulkan data mengenai akses keuangan di negara-negara seluruh dunia. Untuk yang “rakus data”, memulai 2004 itu terlambat; tapi ya daripada tidak sama sekali…ya toh? Database IMF mengklasifikasikan lembaga keuangan dalam sembilan kelompok: commercial bank, other financial corporation, other deposit corporation, other deposit taker, other financial intermediaries, insurance, credit union, deposit taking micro finance dan non deposit taking microfinance. Definisi kesembilan kelompok lembaga keuangan bisa dilihat disini.

Walaupun database ini kumpulan data seluruh negara, pada kenyataannya tidak semua negara ikut berpartisipasi secara bersamaan dalam pelaporan. Akibatnya, jumlah lembaga keuangan yang dilaporkan bisa dipengaruhi oleh jumlah  negara pelapor. Sebagai contoh, credit union. Antara tahun 2008-2009, jumlah credit union nampak meningkat pesat dari 25.567 menjadi 95.819. Hal ini bukan disebabkan oleh peningkatan credit union di tiap negara; tapi karena Indonesia baru mulai melaporkan credit union pada tahun 2009 dan jumlah yang dilaporkan adalah 71.365 unit (!!). Demikian pula antara tahun 2010-2011, jumlah credit union dunia kembali meningkat dari 97.462 menjadi 101.480. Kali ini peningkatan disebabkan oleh Kenya yang  pertama kali melaporkan 6.570 credit union di negaranya. Pengaruh peningkatan negara pelapor terhadap peningkatan signifikan jumlah lembaga keuangan pada tahun 2006 juga terjadi pada kelompok lembaga keuangan “other deposit corporation” dan “other deposit taker”. Dengan kata lain, pengguna musti hati-hati dengan angka peningkatan maupun penurunan jumlah lembaga keuangan. Kadang-kadang fluktuasi dipengaruhi oleh fluktuasi negara pelapor.

Dari gambar, bisa dilihat, diantara sembilan jenis lembaga keuangan, jumlah “commercial bank” , “insurance” dan “microfinance” lebih stabil. Khusus untuk commercial bank, perkembangan jumlah di seluruh negara antara tahun 2004-2011 adalah seperti ini:

Sumber:  elibrary data IMF.

Karena data yang tersedia mulai dari tahun 2004,  series yang bisa dibikin tidak terlalu banyak. Tapi ya lumayan karena masih bisa dibikin tren. Bisa dilihat, tren jumlah bank diseluruh dunia dari tahun 2004 memang terus berkurang. Entah karena konsolidasi (merger dan akuisisi) atau karena imbas krisis keuangan. Sebelum krisis keuangan global 2007/2008, pengurangan terbesar terjadi antara tahun 2004-2005 yaitu sebesar 1,97%. Negara yang paling banyak berkontribusi pada pengurangan jumlah bank di dunia 2004-2005 adalah Amerika, Rusia, Belanda dan Nigeria. Di Amerika, nampaknya ada konsolidasi besar-besaran pada kelompok “agricultural bank” (Data bisa dilihat di http://www.fdic.gov/bank/statistical/stats/2004dec/industry.pdfhttp://www.fdic.gov/bank/statistical/stats/2005dec/industry.pdf . Demikian pula di Belanda; nampaknya ada konsolidasi cabang/afiliasi institusi pemberi kredit antara tahun 2004-2005 ( http://www.dnb.nl/en/binaries/SB_december_2005_tcm47-147382.pdf  hal 158). Sedangkan di Rusia, pada tahun 2004/2005 sempat terjadi “mini banking crisis” http://www-wds.worldbank.org/servlet/WDSContentServer/WDSP/IB/2006/10/31/000016406_20061031100147/Rendered/PDF/wps4056.pdf . Di Nigeria, pada tahun 2004/2005 ada restrukturisasi perbankan besar-besaran http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1592599. Ketika terjadi krisis keuangan global 2007/2008,  jumlah bank dalam setahun berkurang  antara 3,14% -3,2%. Konsolidasi alamiah dalam bentuk pengurangan jumlah bank  per tahun (terjadi di luar periode krisis) hanya sekitar 0,97%.

Cukup 35-58 bank saja: seberapa realistis untuk Indonesia?

Tiap negara memang memiliki kondisi industri perbankan yang berbeda. Indonesia barangkali punya kondisi perbankan yang unik, tidak sama dengan perbankan di negara lain. Tapi kalau data dari 168-176 negara yang melaporkan jumlah commercial bank kepada IMF itu dijadikan patokan, bisa diperkirakan sulit mengurangi jumlah bank di Indonesia menjadi 35-58 bank dalam waktu 10-15 tahun  (Karena API ditetapkan sejak tahun 2004, angka ideal itu berarti target untuk tahun 2014-2019). Dalam kondisi normal (tidak ada krisis ekonomi/perbankan), pengurangan paling-paling hanya 1% setahun. Target pengurangan jumlah bank  separuh dari jumlah yang ada (ada 133 bank pada tahun 2004), secara tidak langsung “menuntut” tiap tahun ada pengurangan bank umum 5-6 bank yang keluar dari industri. Bisa saja terjadi secara “alamiah”, asal didahului dengan krisis ekonomi berat. Tetapi siapa yang mau mengalami lagi???

Berikut ini gambar perkembangan jumlah bank dan proyeksi jumlah bank di Indonesia, yang menurut saya paling mungkin dan yang mustahil:

Data diolah dari berbagai sumber: Stastistik Ekonomi Keuangan Indonesia, Statistik Perbankan Indonesia, angka diambil dari data Desember tiap tahun. Sekedar catatan, kadang data jumlah bank antara SEKI dan SPI tidak sama. Mei 1992, hanya ada satu bank syariah yang diklasifikasikan sebagai “bank umum”. Paska krisis moneter, mulai banyak bank syariah yang berasal dari bank umum. Setau saya sejak tahun 2003, data bank syariah mulai diklasifikasikan terpisah dari bank umum. Meskipun demikian,  kriteria “bank umum” tetap mencakup bank umum konvensional dan syariah.

Kalau menurut saya sih, dengan dasar gambar di atas, Indonesia sebenarnya tidak punya sejarah peningkatan atau pengurangan jumlah bank dengan drastis kecuali dengan/melalui regulasi dan/atau krisis. Pada tahun 1980 jumlah bank hanya 122, dan selama 8 tahun hanya berkurang 11 bank. Pada tahun 1988 ada 111 bank, tetapi dengan penerbitan peraturan yang “membuka” industri perbankan (tepatnya deregulasi perbankan, PAKTO 1988), hanya dalam waktu enam tahun jumlah bank meningkat menjadi 239 (tahun 1995/1996). Artinya, ada peningkatan 115%; jumlah bank bertambah 128 bank; atau kalau dibagi 7 tahun sama dengan 18 bank baru tiap tahun.

Kejadian sebaliknya pada era krisis dan paska krisis moneter. Tahun 1997 (akhir) jumlah bank sudah berkurang menjadi 221. Tahun 1998 berkurang lagi menjadi 218, tahun 1999 menjadi 167 bank (data dari SEKI menyebutkan jumlah bank 164; perbedaan angka bisa terjadi karena pada masa itu ada beberapa bank sedang dalam proses digabung oleh IBRA/BPPN).

Kalau krisis ekonomi dihitung dari 1997-1999, dalam periode 2-3 tahun itu jumlah bank berkurang 55-58 bank, atau antara 18-29 per tahun. Antara tahun 2003-2007 jumlah bank umum berkurang lagi menjadi sekitar 130an. Sedangkan antara tahun 2008-2011 jumlah bank umum menjadi sekitar 120an.
Kalau paska krisis dimulai tahun 2000, antara tahun 2000-2011, jumlah bank berkurang dari 149 menjadi 120; berkurang 29 bank atau sekitar 3 bank per tahun.

Angka yang saya sebut itu bukan fakta atau data yang baru diketahui orang. Saya kutip lagi untuk kasi tunjuk, menurut saya, tidak mungkin mengubah jumlah bank (berkurang atau bertambah) dengan drastis tanpa “paksaan” dari otoritas dan/atau krisis besar. Ekstrimnya, kalau memang mau mengurangi jumlah bank di Indonesia dengan regulasi, industri perbankan ditutup saja bagi investor baru dan bank yang dianggap tidak punya prospek  atau terlalu kecil diminta melikuidasi diri sendiri. Atau restrukturisasi paksa seperti Nigeria….

Kalau bikin peraturan semacam itu tidak mungkin, dan tidak ada yang berharap kita kena krisis lagi (nanti bailout lagi, ribut lagiii), tapi  jumlah bank tetap mau dikurangi, “kecepatan” maksimal paling-paling berkurang tiga dalam setahun. Itu berdasarkan “sejarah”. Ok, memang ada yang bilang historical data are the worst predictor. Tapi kalau tidak pakai historical data mau pakai apa? Angka karangan? Selain itu, sejak krisis 1997/1998, seingat saya, industri perbankan terus diatur untuk memperbaiki diri (modal harus besar dan makin lama makin besar, NPL harus rendah, ROA harus tinggi, efisiensi harus tinggi, dst). Peraturan permodalan yang baru, menurut saya, bisa dianggap serangkaian dari peraturan-peraturan yang lalu. Serangkaian peraturan itu toh tidak membuat jumlah bank berkurang drastis.

Seandainya ada tiga bank berkurang tiap tahun,   12-13 tahun kedepan (tahun 2024), jumlah bank paling-paling baru berkurang sekitar 36-39 (menjadi 92 bank, garis hijau di gambar di atas). Jumlah ini masih jauh di atas target API 35-58 bank.

Menghitung proyeksi jumlah bank pakai metode yang “gaya” sedikit (pakai garis tren linear atau log linier) hasilnya agak beda.  Gambarnya seperti dibawah ini:

Indonesian banks 2000_2012

Angka/data diambil mulai dari tahun 2000, karena masa krisis ekonomi adalah masa-masa ekstrim dalam pengurangan bank. Kalau pakai garis linier (dengan segala asumsinya  yang tidak terlalu tepat), dengan persamaan yang nampil dalam gambar, pada tahun 2014 jumlah bank di Indonesia paling akan menjadi 114. Sedangkan kalau pakai log linier, jumlah bank di Indonesia relatif sama dengan sekarang yaitu 119. Tahun 2026 (sekitar 15 tahun lagi), jumlah bank di Indonesia kira-kira akan berkisar antara 85 (dengan linier) sampai dengan 112 (dengan log linier) bank. Pada gambar proyeksi jumlah bank yang saya pamerin sebelumnya, angka 112 ditampilkan dengan garis hijau muda. Pakai linier atau log, tetap saja masih jauh diatas “target” API versi 2004 yang 35-58.

Jadi, menurut saya sih sampai sekitar tahun 2026 jumlah bank masih akan berkisar antara 85 atau 92 atau 112an bank. Sekali lagi, kecuali, ada kebijakan drastis seperti yang dilakukan bank sentral dan pemerintah Nigeria (tapi kondisi perbankan Indonesia jauh berbeda dengan Nigeria!).

Cara hitung membumi??

Setau saya, setidaknya ada dua cara: simulasi akuisisi/merger, simulasi dengan mempertimbangkan perubahan-perubahan peraturan. Walaupun masalahnya akan tetap sama: apa artinya hitungan di atas kertas dengan formula yang njlimet kalau tidak “nyambung” dengan kondisi di lapangan.
Menghitung jumlah bank ideal dengan simulasi merger/akuisisi setau saya pernah diteliti dengan obyek bank dan perusahaan keuangan di Taiwan http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/02642060802283121  . Menurut saya, kalau mau diterapkan di Indonesia harus ada “jaminan” bank bisa dipaksa untuk merger atau akuisisi. Soalnya kalau tidak ya percuma: bikin simulasi bank A mengakuisisi B tapi dalam kenyataan antara A dan B tidak ada keinginan sama sekali untuk bergabung.

Simulasi dengan memperhitungkan perubahan peraturan setau saya digunakan oleh orang-orang pinter Amerika tahun 1996  (referensi komprehensif  bisa lihat http://fic.wharton.upenn.edu/fic/papers/96/9606part1.pdf  ; http://fic.wharton.upenn.edu/fic/papers/96/9606part2.pdf  ; http://fic.wharton.upenn.edu/fic/papers/96/9606part3.pdf  ;  http://fic.wharton.upenn.edu/fic/papers/96/9606part4.pdf ). Mereka nampaknya memprediksi dengan cukup akurat jumlah bank 25 tahun kemudian (2019) dan keberadaan bank-bank kecil.

Ada lagi yang menimbang jumlah bank dengan dasar skala ekonomi dan skala produksi (misalnya http://fic.wharton.upenn.edu/fic/papers/08/0824.pdf). Analisis mengenai “future of banking” juga dilakukan FDIC tahun 2004 (kumpulan artikel bisa lihat http://www.fdic.gov/bank/analytical/future/) .   Mereka juga memprediksi, jumlah bank di Amerika akan terus berkurang secara alamiah (karena merger dan akuisisi), tapi pengurangan tidak drastis. Nampaknya prediksi mereka mendekati kenyataan apalagi karena ada krisis finansial barusan.

Sekedar membandingkan, ini gambar perkembangan jumlah bank di Amerika sejak 1934.

bankamerika 1934

Sumber data: FDIC   http://www2.fdic.gov/hsob/HSOBRpt.asp

Amerika memang bukan negara seperti Indonesia, tapi mereka punya sejarah perbankan lebih panjang dan lebih “berwarna” dari  Indonesia. Ada perubahan peraturan permodalan yang kemudian diadopsi dunia (risk weighted capital), ada gelombang merger akuisisi, ada perubahan peraturan yang fundamental yang memungkinkan bank buka cabang di negara bagian lain, dst… Terakhir ini mereka mengalami krisis keuangan besar yang menular kemana-mana. Gambar di atas menunjukkan, butuh waktu 27 tahun untuk mengurangi jumlah institusi bank sebanyak 56% (dari 14.496 tahun 1984 menjadi 6.291 tahun 2011).

Sedikit bank…banyak layanan…di banyak tempat?

Seperti yang saya kemukakan pada bagian awal, ada argumentasi: lebih baik punya bank sedikit, tapi bisa menyediakan layanan banyak, dimana-mana (punya kantor dimana-mana) karena besar dan kuat. Tidak ada yang salah dengan pemikiran itu karena memang hanya bank bermodal kuat yang bisa ekspansi. Baik ekspansi neraca, maupun ekspansi kantor. Tapi untuk Indonesia, apa benar sedikit bank berkorelasi dengan banyak layanan (yang artinya juga berkontribusi pada ekonomi negara)? Kalau “layanan” diartikan “penggalangan dana” mungkin jawabnya “ya”. (Lihat bagian akhir coret-coret ini yaaa….) Akan tetapi kalau layanan diartikan “distribusi dana” dalam bentuk penyaluran kredit, kayaknya korelasi positif itu belum tentu akan terjadi. Coba ini ada gambar yang menunjukkan perkembangan kantor cabang per100.000 penduduk dengan rasio kredit-GDP:

correlation branch bank_cred gdp indon

Sumber data: Data Indicators World Bank, SEKI, SPI.

Kondisi paska krisis moneter 1997/1998 di Indonesia, menurut saya, ternyata cukup aneh: rasio kredit-GDP semakin rendah, tapi jumlah kantor cabang bank per 100.000 penduduk semakin tinggi. Menurut saya sih, kalau benar kantor cabang bank yang banyak bisa kasi akses keuangan semakin banyak pada penduduk, mustinya, rasio kredit-GDP ikut meningkat, bukannya malah turun. (Jangan-jangan salah GDPnya yang terlalu besar).

Mari dibandingkan dengan negara tetangga yang sama-sama lulusan krisis moneter, Thailand dan Filipina. (Saya hanya bisa mendapatkan data jumlah kantor cabang bank per 100.000 penduduk yang konsisten- untuk Thailand danFilipina. Jadi tidak bisa kasi tunjuk gambar Malaysia dan Korea.) Yang berikut ini adalah gambar Thailand:

correlation branch bank_cred gdp thai

Sumber data: Bank Sentral Thailand, Bank of Thailand   http://www2.bot.or.th/statistics/Download/FI_CB_060_ENG_ALL.XLS ; http://www2.bot.or.th/statistics/Download/FI_CB_060_S2_ENG_ALL.XLS

Di Thailand, paska krisis rasio kredit-GDP semakin rendah seiring dengan berkurangnya jumlah kantor cabang bank per100.000 penduduk. Tapi sejak tahun 2006-2007, rasio kredit-GDP membaik bersama-sama dengan meningkatnya jumlah kantor cabang bank. Walaupun jumlah kantor cabang meningkat, jumlah bank di Thailand terus berkurang. Ada yang bilang, idealnya hanya 5 saja http://www.businessweek.com/news/2012-06-24/thai-bank-ceo-sees-competition-spurring-mergers-southeast-asia#p2  .

Sedangkan Filipina, gambarnya seperti ini:

correlation branch bank_cred gdp philippines

Sumber data: Bank Sentral Filipina, Bangko Sentral ng Pilipinas,    http://www.bsp.gov.ph/statistics/overview.asp

Filipina dikenal mirip Indonesia karena rasio kredit-GDP yang rendah. Akan tetapi kali ini lebih mirip kebalikan Thailand paska krisis. Kalau data Thailand menunjukkan tren peningkatan, Filipina sebaliknya:  jumlah kantor cabang bank per 100.000 orang cenderung berkurang; demikian juga dengan rasio kredit-GDP.  Tahun 2010 kedua variabel agak meningkat sedikit.

Membandingkan gambar Indonesia dengan Thailand dan Filipina, saya jadi bertanya-tanya: mengapa rasio kredit-GDP Indonesia terus berkurang padahal jumlah kantor cabang bank per 100.000 penduduk terus meningkat? Bukankah seharusnya korelasi keduanya adalah positif? (Kalau meningkat, meningkat semua, kalau berkurang ya berkurang semua). Seberapa banyak negara dengan korelasi negatif semacam ini?

Korelasi rasio kredit-GDP dengan jumlah kantor cabang

korelasi cred gdp_branchKebetulan World Bank menyediakan data keduanya untuk seluruh negara, walaupun tidak proporsional: data kantor cabang per 100.000 penduduk dewasa baru dimulai tahun 2004. (Walau definisi pada database World Bank menyebut kantor cabang adalah “kantor yang terpisah dari kantor pusat”, tapi hitungan rasio nampaknya tetap memperhitungkan kantor pusat). Sebaliknya data rasio kredit terhadap GDP sudah ada sejak 1960. Pakai Excel, saya hitung korelasi antara keduanya. Tentu saja karena data tidak seimbang, belum lagi masalah kelengkapan data (missing value), angka koefisien korelasi tidak bisa dihitung untuk setiap negara yang ada pada database World Bank. Data Cina, misalnya, lengkap untuk variabel rasio kredit-GDP, tapi tidak sama sekali untuk variabel kantor cabang per 100.000 penduduk. Akibatnya, tidak bisa didapat angka korelasi untuk Cina.

Dari 214 negara, ada 128 yang berhasil dihitung angka korelasi dua variabel. Dari 128 negara tersebut hanya ada 49 negara yang memiliki korelasi negatif. Artinya, semakin banyak kantor cabang per 100.000 penduduk, semakin rendah rasio kredit-GDP, dan sebaliknya.  Dari 49 negara itu hanya 13 yang memiliki korelasi negatif lebih kecil dari -50% dan memiliki rasio kredit-GDP  yang cenderung turun seperti Indonesia. Ke-13 negara itu adalah: Algeria, Cameroon, Chile, Congo Republic, Guyana, Indonesia, Lebanon, Libya, Macao SAR, Saudi Arabia, Seychelles, Uruguay dan Singapore. Negara yang terakhir ini, Singapore, agak berbeda karena walaupun korelasi dua variabel negatif dan besar, tren rasio kredit terhadap GDP cenderung meningkat .   Angka korelasi 13 negara dan negara tetangga alumni krisis 1997/1998 ada pada tabel di dekat sini.

What you see is not always what you get: ada korelasi tidak selalu berarti ada hubungan sebab-akibat

Tapiiiii… korelasi tidak sama dengan “causation” / hubungan sebab-akibat; koefisien korelasi (r) tidak menentukan variabel yang mendahului variabel lain. Koefisien korelasi menunjukkan derajat keeratan variabel, dalam hal ini rasio kredit-GDP dan jumlah kantor cabang per 100.000 penduduk. Selain itu, data yang dipakai disini terbatas terutama data jumlah kantor cabang. Kalau data ditambah, angka korelasi bisa berubah tidak hanya semakin kecil atau besar, tapi bisa berubah dari positif jadi negatif atau sebaliknya. Korelasi juga bisa spurious, tidak ada hubungannya, atau karena ada variabel ketiga, sehingga korelasi semacam itu tidak terjadi dimasa depan.  Musti hati-hati kalau mau dijadikan dasar kebijakan. Mentang-mentang korelasi negatif, kita tidak bisa lalu berkesimpulan “kalau mau meningkatkan  rasio kredit-GDP jumlah kantor cabang harus dikurangi”. Tentu tidak begitu. Harus dicari tau mana sebab mana akibat.

Ini ada gambar hirarki korelasi. Kayaknya berguna untuk pengingat beda antara “korelasi” dan “sebab-akibat”, serta hubungan  yang mana yang bisa dijadikan dasar pengambilan kebijakan.

correlation hierrarchi

Dikutip dari http://www.antolin-davies.com/forecasting/correlationcausality.doc

Menurut saya, antara jumlah kantor cabang dengan rasio kredit-GDP mestinya memang ada korelasi positif. Kalau produktifitas kantor cabang bank tinggi, semakin banyak akses perbankan bagi penduduk (ditunjukkan dengan semakin banyak kantor cabang), mestinya semakin tinggi rasio kredit-GDP. Menurut saya hubungan dua variabel itu bukan hubungan yang random atau spurious. Selain itu, wajarnya, hubungan sebab-akibat memiliki arah dari kantor cabang ke rasio kredit-GDP.  Kantor cabang sebagai “sebab”, rasio kredit-GDP sebagai “akibat”.

Kalau argumentasi “bank dengan modal besar sanggup bikin cabang dimana-mana sehingga bisa kasi layanan lengkap” itu benar, mestinya korelasi keduanya tidak hanya positif tapi ada hubungan sebab akibat. Kalau layanan diukur dalam bentuk rasio kredit-GDP (=layanan kepada potential borrower) mestinya hubungan sebab akibat “arahnya” dari kantor cabang per 100.000 penduduk ke rasio kredit-GDP. Sekarang mari dilihat causation atau hubungan sebab-akibat keduanya.

Mana lebih dulu: rasio kredit-GDP atau kantor cabang?

Untuk menentukan mana sebab mana akibat biasanya dihitung pakai Granger causality. Karena bivariate, bisa pakai Excel,bisa juga pakai software gratisan yang ada di internet http://www.wessa.net/rwasp_grangercausality.wasp?outtype=&RServer0=1.   Sayangnya, seperti yang dikemukakan sebelumnya, data jumlah kantor cabang terbatas; akibatnya tidak semua negara  dapat diketahui hubungan sebab-akibat dua variabel tersebut. Musti cari data tambahan.

Singkat cerita, akhirnya didapat data tambahan untuk empat negara : Indonesia, Filipina, Thailand dan Chile. Data tambahan tiga negara pertama didapat dari bank sentral, sedangkan data tambahan jumlah kantor cabang Chile didapat dari OECD. Sebetulnya data jumlah kantor cabang Korea juga ada. Akan tetapi angkanya tidak meyakinkan. Jadinya saya tidak jadi hitung.

Situs OECD menyediakan data kantor cabang sejak 1999-2009. Sayangnya, informasi ini kemudian dihentikan pengumpulannya. Sedangkan data kantor cabang per 100.000 penduduk disediakan World Bank sejak tahun 2004. Untuk Chile, akhirnya penghitungan data kantor cabang saya kombinasikan: 1999-2003 pakai data OECD, 2004-2010 pakai data World Bank. Situs Superintendencia de Bancos e Instituciones Financieras (OJK-nya Chile) memang menyediakan data bank dan jumlah kantor cabangnya per triwulan, tapi hanya dari tahun 2005 http://www.sbif.cl/sbifweb/servlet/Portada?indice=0.0 .

 Jadi dari sekian negara yang ada di tabel korelasi itu, dan setelah cari data tambahan sana sini, ada empat negara yang bisa dihitung Granger causality. Keempatnya menggunakan data dari tahun 1998/1999-2010; independent variable adalah kantor cabang, dependent variable adalah rasio kredit-GDP. Untuk Indonesia, Filipina dan Thailand,  rasio kredit-GDP “mendahului” atau “Granger cause” jumlah kantor cabang.  Hasil untuk Indonesia, Thailand,  signifikan secara statistik dengan tingkat keyakinan 95%; untuk  Filipina  signifikan secara statistik dengan tingkat keyakinan 10%. Bedanya, korelasi (r) Indonesia negatif dan tinggi. Korelasi Thailand positif dan sangat rendah.  Sedangkan korelasi Filipina adalah positif dan tinggi. Untuk Chile, jumlah kantor cabang “Granger cause” rasio kredit-GDP secara signifikan. Sama seperti Indonesia, korelasi Chile adalah negatif dan tinggi.

Kembali ke hasil Granger causality Indonesia, Thailand dan Filipina. Entah  karena data terbatas (walau sudah berusaha ditambah) atau  karena “causally misspecified” (lihat bagan di atas bagian kiri bawah), sehingga hubungan sebab-akibat jadi “terbalik” tidak sesuai dengan dugaan. Bukan kantor cabang yang “Granger cause” rasio kredit – GDP tapi sebaliknya. Yang jelas, lebih mudah memahami hasil hitungan Thailand dan Filipina: rasio kredit-GDP yang tinggi memacu bank ekspansi kemana-mana. Ibaratnya sukses berbisnis di satu kota, lalu ekspansi dan menawarkan produk ke kota-kota lain. Demikian juga kalau rasio kredit-GDP berkurang, kantor cabang bank ikut berkurang.

Buat saya, lebih susah memahami hasil Granger cause Indonesia dan Chile karena angka korelasi negatif. Untuk Indonesia,  rasio kredit-GDP “mendahului” atau “mengakibatkan” penambahan atau pengurangan kantor cabang. Dalam hal ini, karena korelasi negatif, berarti rendahnya rasio kredit-GDP mengakibatkan peningkatan jumlah kantor cabang. Semakin rendah rasio kredit – GDP, bank malah semakin ekspansif bikin kantor cabang (????). Sebaliknya untuk Chile…jumlah kantor cabang bank per 100.000 penduduk “mendahului” rasio kredit-GDP. Karena korelasi negatif, berarti, semakin banyak kantor cabang mengakibatkan rendahnya rasio kredit-GDP (????). Lalu apa yang dilakukan kantor cabang itu ya???

 Saya jadi bertanya-tanya apakah hubungan sebab-akibat tapi negatif ini mengindikasikan kantor cabang bank di Indonesia tidak terlalu produktif sebagaimana yang seharusnya atau jangan-jangan bank (kantor pusat) terlalu fokus ke ekpansi kantor karena  terlalu banyak dana “menganggur” (kredit belum direalisasikan)? Inikah salah satu faktor inefisiensi perbankan Indonesia??? Bicara mengenai efisiensi, di Chile memang sedang ada konsolidasi perbankan. Jumlah bank yang hanya sekitar 29 (tahun 1999)  itu terus berkurang menjadi sekitar 24 saja (tahun 2011). Ada studi orang pinter yang bilang, merger atau akuisisi bank di Chile meningkatkan efisiensi http://www.udp.cl/descargas/facultades_carreras/economia/pdf/documentos_investigacion/wp33_bank_mergers_in_chile_portilla.pdf . Di Indonesia, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bank-bank sejak dulu didorong bergabung supaya efisien…Tingkat efisiensi memang membaik, tapi ternyata masih rendah dibandingkan negara tetangga.

Mana sebab, mana akibat?

Sekali lagi,tidak ada yang salah dengan cita-cita memiliki perbankan dengan modal besar. Tidak lama lagi akan diterapkan ASEAN community, dan modal bank di Indonesia memang masih kalah dibanding bank-bank negara tetangga http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/313572-bersaing-di-asean–bank-ri-kalah-modal. Sehingga, berapapun jumlah bank di Indonesia, punya modal besar itu sudah jadi keharusan kalau mau bersaing. Melalui coret-coret ini, saya wondering saja, apa sudah benar menarik hubungan sebab-akibat antara “jumlah bank”  di satu sisi dengan “layanan” di sisi lain. (Sampai-sampai ada pemikiran lebih baik jumlah bank sedikit, tapi bermodal besar, punya kantor dimana-mana dan bisa kasi layanan macam-macam.)

Kalau bentuk layanan bank didefinisikan (termasuk) distribusi dana dalam bentuk kredit, dan diukur melalui rasio kredit-GDP, kayaknya pemikiran itu tidak terlalu tepat. Pertama karena ternyata ada korelasi negatif antara rasio kredit-GDP dan jumlah kantor cabang per 100.000 penduduk Indonesia. Kedua, karena hubungan sebab-akibat ternyata  bukan dari jumlah kantor cabang, tapi dari rasio kredit-GDP. Ibarat telur mendahului ayam, variabel yang mendahului bukan kantor cabang yang banyak atau peningkatan akses penduduk terhadap layanan bank, tapi justru rasio kredit-GDP. Saya mengintrepretasikan, untuk Indonesia, kalau ingin rasio kredit-GDP meningkat, sebetulnya tidak perlu bikin kantor cabang baru banyak-banyak. Bahkan  berapa jumlah bank di negeri ini, sebetulnya (atau jangan-jangan) menjadi kurang relevan. Bikin saja kredit banyak-banyak entah di kantor pusat atau kantor cabang yang sudah ada, dan tidak perlu terlalu ekspansif menambah kantor cabang (fisik). Tidakkah kita ingin rasio kredit-GDP tinggi seperti Thailand, Malaysia atau Korea? (atau rasio ini tidak dianggap penting?)

Saya tadinya sempat berpikir korelasi rasio kredit-GDP dengan jumlah kantor cabang bank per 100.000 penduduk Indonesia menunjukkan angka negatif karena saya ambil data bias ke paska krisis. Tapi ternyata setelah data Thailand dan Filipina dengan rentang  waktu yang sebanding (antara 1999-2010) digunakan, hasil untuk dua negara itu berbeda dengan Indonesia.  Thailand dan Filipina memiliki korelasi positif. Sehingga walaupun sebab akibat datang dari “arah” rasio kredit-GDP, penjelasannya lebih mudah. Rasio kredit-GDP yang semakin tinggi mengakibatkan bank giat ekspansi kemana-mana. Tapi kalau angka korelasi negatif kan jadi aneh ya….Mungkin karena banyak third variable effects di Indonesia sehingga hubungan sebab akibat tidak bisa dibikin model langsung “rasio kredit-GDP dengan jumlah kantor cabang”: sentra ekonomi tidak merata di seluruh negeri…padahal bank bisa banyak kasi kredit biasanya hanya di sentra ekonomi. Masalah infrastruktur, masalah indeks “ease of doing business” yang rendah, termasuk inefisiensi perbankan itu sendiri….

Seperti yang sudah-sudah, coret-coret ini cuma iseng. Tidak perlu serius menanggapi “keheranan” saya dengan pemikiran/ide/argumentasi “bank sedikit, modal besar, kantor cabang banyak correspond to pelayanan yang semakin beragam”. Mereka yang yakin dengan konsep/ide itu mestinya punya dasar pertimbangan yang lebih njelimet, punya data lengkap dan dianalisa dengan komprehensif. Sementara data yang saya pakai terbatas, begitu juga software untuk analisis statistik (terutama Granger causality) cuma pakai software gratisan yang saya cek ulang pakai Excel.

Coret-coret yang tidak serius ini saya akhiri dengan satu set gambar rasio total deposito -GDP dengan jumlah kantor cabang bank per 100.000 penduduk dewasa…. Ada yang bisa tebak “Granger causality” dari mana kemana???

dep to gdp and branch

Data diambil dari Asian Development Bank dan Inter American Development Bank. Total deposit adalah total  dana pihak ketiga.

Happy holidays everyone. Selamat Natal bagi yang merayakan (belated greetings)…. Selamat tahun baru 2013….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s