To bail or not to bail (kisah investment grade dan bailout bank)_2

Standard

Awalnya adalah pernyataan yang menurut saya absurd abis: “investment grade didapat karena ekonomi Indonesia selamat dari krisis berkat bailout bank Century”.  Statement itu memang dibikin karena saat Indonesia mendapat upgrade peringkat sovereign debt dari Fitch, hasil audit forensik BPK diserahkan DPR (dan mulai diributkan). Saya lalu iseng cari tau: apa benar investment grade ada kaitannya dengan keselamatan ekonomi nasional dari krisis finansial 2007/2008? Kedua, apa benar bailout bank ada kaitannya dengan keselamatan ekonomi dari krisis??

Dua pertanyaan itu sebetulnya belum ada yang dijawab karena pada bagian pertama malah ngelantur ngomongin  Foreign Direct Investment inflow yang dikait-kaitkan dengan status surat utang Indonesia yang “BBB-” (apalagi setelah dapat kenaikan peringkat dua kali). Yang saya tau dari sekian referensi, tidak ada yang menyimpulkan investment grade atau “sovereign debt rating”  ada kaitannya dengan FDI inflow….(jadi kenapa dihubung-hubungkan ya??).Pada bagian yang kedua ini, moga-moga dua pertanyaan itu bisa dijawab. 

Krisis 2007/2008 dan investment grade

Pada bagian pertama, saya sudah tunjukkan hasil studi orang pinter yang mengidentifikasi beberapa variabel makro yang dibilang memengaruhi rating dari lembaga pemeringkat.  Kalau sovereign rating berkaitan dengan kinerja ekonomi makro, tidakkah investment grade yang didapat akhir 2011 dan awal 2012 menunjukkan ekonomi Indonesia berhasil selamat dari krisis?

Frasa yang menurut saya sering bikin nalar terkilir adalah “selamat dari krisis”. Benarkah “BBB-” identik dengan “ekonomi yang selamat dari krisis 2007/2008”?? Menurut saya sih: tidak. Memang betul bahwa “BBB-” menunjukkan kinerja ekonomi makro yang “layak untuk berinvestasi”. Tapi belum tentu ekonomi negara yang dapat “BBB-” selamat dari krisis. Dengan kata lain “selamat dari krisis” is another whole story; bukan ikutan atau tempelan “investment grade”. (Selain itu…apa sih “selamat dari krisis itu”?? apa benar waktu itu -September 2008- Indonesia mengalami “krisis ekonomi”??)

Mari dibahas satu-satu (mengenai apakah tahun 2008 Indonesia mengalami krisis ekonomi, kalau minat bisa baca coret-coret saya http://grundelanbankcentury.wordpress.com/2010/01/17/leading-indicators-krisis-dan-krisis-dalam-gambar/ ). Ini saya tunjukkan tabel negara-negara yang mendapat peringkat “BBB-” setelah krisis 2007/2008; sumber data adalah data historis dari Fitch yang saya sebut pada bagian pertama http://www.fitchratings.com/web_content/ratings/sovereign_ratings_history.xls. Ada sembilan belas negara, termasuk Indonesia, yang setelah 2007/2008 dapat “BBB-“. Saya juga mencantumkan hasil survey EoDB, supaya bisa kelihatan bagaimana korelasi antara “investment grade” dengan peringkat kemudahan berbisnis suatu negara.

Dari tabel nampak,negara yang mendapatkan status investment grade minimal (“BBB-“) umumnya memiliki peringkat EoDB yang baik. Hanya empat negara yang mendapat peringkat diatas 100 yaitu Greek/Yunani, Brazil, Indonesia, India.

Selain itu, “mendapatkan BBB-” tidak selalu berarti “prestasi” . Ada negara yang mendapat “BBB-” karena upgrade (naik status; huruf warna hijau) tapi ada juga negara-negara yang mendapatkan status “BBB-” karena di-downgrade oleh Fitch (huruf warna merah); ada juga yang stabil (huruf warna biru). Contoh negara yang naik kelas adalah Peru. Peru mendapat status investment grade pertama kali tahun 2008 dan mempertahankannya tahun 2010. Tahun 2011 statusnya bahkan naik menjadi “BBB”. Demikian juga dengan beberapa negara Amerika Selatan lainnya seperti Brazil, Colombia dan Panama.

Sebaliknya, Greece/Yunani adalah contoh negara yang kena downgrade. Negara ini sebetulnya sejak tahun 2000 sudah dapat rating “A-“; bahkan tahun 2003 mendapat “A+”. Krisis mengakibatkan sovereign rating Greece/Yunani turun sampai “BBB-” tahun 2010; bahkan pertengahan tahun 2011 rating Greece/Yunani diturunkan lagi menjadi “CCC”. Romania juga contoh negara yang mendapat “BBB-” setelah mengalami downgrade 2007-2008 (dari “BBB” menjadi “BB+”) dan upgrade dari 2010-2011 (dari “BB+” ke “BBB-“).

Jadi, menurut saya, menganggap “investment grade” identik dengan keselamatan ekonomi dari krisis 2007/2008 itu tidak tepat. Sama tidak tepatnya dengan menganggap investment grade identik dengan peningkatan FDI inflow. Karena nyatanya ada negara yang dapat “investment grade” tapi sebetulnya kena “downgrade”. Cara berpikir yang lebih benar, menurut saya, mengaitkan “investment grade” dengan kinerja atau variabel ekonomi makro seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

“Rahasia” selamat dari krisis finansial 2007/2008

Kalau dapat “BBB-” ada banyak cerita dan tidak selalu cerita “economic crisis survival”, mari dilihat-lihat mengapa ada negara yang selamat dari krisis dan ada yang tidak. Apa benar ada hubungannya dengan bailout bank?

Sebelum diomongin banyak-banyak, istilah “selamat dari krisis” musti diperjelas dulu. Arti frasa “selamat dari krisis finansial 2007/2008” nampaknya  tergantung siapa yang ngomong. Kalau yang bikin statement itu mereka yang pro bailout Century, “selamat dari krisis” nampaknya berarti “punya kinerja seperti Indonesia: GDP growth positif (pada tahun 2009) pada saat negara lain (katanya) punya GDP growth negatif”. Padahal kalau database GDP growth World Bank dilihat dan di-sort http://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG?order=wbapi_data_value_2009+wbapi_data_value&sort=asc akan tampak negara-negara dengan GDP growth tertinggi tahun 2009 tidak selalu negara-negara yang bisa atau layak ditiru Indonesia. Mau tau tiga negara dengan GDP growth (nominal) tertinggi pada tahun 2009? Ranking pertama  adalah Afganistan (20,4%), disusul Myanmar (10,6%) di posisi kedua, dan Azerbaijan (9,3%) di posisi ketiga.

Untungnya, krisis finansial 2007/2008 (ada yang bilang 2008/2009) memicu begitu banyak studi. Tidak hanya studi mengenai sub prime mortgage tapi juga mengenai kebijakan keuangan yang diambil baik oleh pemerintah negara yang mengalami krisis dan yang tidak mengalami krisis. Yang dipelajari akhirnya tidak hanya “krisis” itu sendiri atau sekedar menjawab pertanyaan “mengapa krisis bisa terjadi?” tapi juga “bagaimana krisis bisa menjalar ke benua lain”, dan “mengapa krisis tidak dialami oleh negara tertentu?”. Karakteristik negara yang tidak mengalami krisis dan karakteristik krisis itu sendiri juga diteliti. Jadi kalau yang ngomong orang pinter yang cari tau sungguh-sungguh, arti “selamat dari krisis” kurang lebih: “koreksi pertumbuhan GDP tidak besar” atau “probabilitas mengalami krisis-karena krisis finansial Amerika-kecil”. Dengan kata lain, bisa saja suatu  negara punya pertumbuhan GDP negatif, tapi digolongkan sebagai “selamat dari krisis”.

Kata orang-orang pinter itu, “selamat dari krisis” bisa dilihat dari dua sisi. Pertama dari sisi karakteristik negara melalui jalur perbankan negara itu (bank channel) dan jalur perdagangan (trade channel). Kedua, “selamat dari krisis” juga bisa diukur langsung. Pada literatur “krisis ekonomi”, biasanya ada kriteria tertentu mengapa suatu kondisi ekonomi digolongkan sebagai “krisis”. Misalnya nilai tukar yang terdepresiasi lebih dari 30% itu digolongkan sebagai “systemic crisis”; ada yang mengklasifikasikan krisis kalau beberapa bank penting pada industri perbankan bersama-sama mengalami kesulitan keuangan. (lihat misalnya http://www.clevelandfed.org/research/policydis/no9jan05.pdf )   Dengan membandingkan kondisi makro negara dengan klasifikasi krisis ekonomi, bisa diketahui apakah suatu negara mengalami krisis atau tidak.

Selamat dari krisis melalui jalur perbankan (bank channel) dan jalur perdagangan (trade channel)

Setelah krisis 2007/2008 ada banyak orang pinter bikin studi cari tau mengapa ada negara yang selamat dari krisis finansial tempo hari (http://www.relooney.info/0_New_7703.pdf; kalau alergi sama IMF bisa lihat http://mpra.ub.uni-muenchen.de/26088/1/MPRA_paper_26088.pdf ) . Mereka mengidentifikasi karakteristik ekonomi negara yang tidak kena dampak krisis finansial 2007/2008, dibandingkan dengan negara yang kena dampaknya sampai parah. Katanya negara-negara yang selamat dari krisis adalah negara yang tidak terlalu ekspansif perkembangan kreditnya, atau punya net interest margin besar, atau punya loan to deposit ratio kecil. (Sebetulnya net interest margin yang besar menunjukkan perbankan bertumpu pada kredit bukan pada transaksi derivatif yang bikin pusing banyak orang waktu krisis tempo hari). Ada juga yang bilang, industri perbankan yang konvensional relatif aman dari krisis (contohnya adalah Kanada dan Australia walaupun keduanya adalah negara maju http://www.irpp.org/po/archive/may10/lynch.pdf  ). Orang pinter yang lain lagi menyimpulkan negara yang tidak terlalu banyak terkoreksi pertumbuhannya adalah negara yang jenis ekspornya adalah “food”. Sebaliknya yang mayoritas ekspornya adalah manufaktur cenderung lebih banyak terkoreksi pertumbuhannya, walaupun tetap dikategorikan sebagai negara yang selamat dari krisis.

Menurut database World Bank, ekspor food didefinisikan sebagai “food and live animals; beverages and tobacco; animal-vegetable oils and fat; oil seeds, oil nuts, oil kernels”. Sedangkan ekspor manufaktur didefinisikan sebagai “chemical; basic manufactures; machinery and transport equipment; misc manufactures goods excluding non ferrous metals”.   Negara yang memiliki rasio ekspor “food” terhadap merchandise cenderung memiliki kinerja ekonomi lebih baik karena food, katanya, memiliki permintaan inelastis. Artinya, semakin memenuhi kebutuhan, semakin rendah elastisitas permintaan. Ini beda dengan elastisitas produk manufaktur yang tergantung  harga dan pendapatan negara pengimpor (elastisitas lebih besar dari 1). Itu juga sebabnya negara pengekspor food di Afrika mengalami penurunan ekspor tapi tidak separah negara Afrika pengekspor tambang atau manufaktur ( http://www.aercafrica.org/documents/rethinkingworkshoppapers/CaliennanEffectsLDCs.pdf ).

Bagaimana Indonesia dan negara tetangga selamat dari krisis

Sekarang, mari  dilihat bagaimana karakteristik ekonomi Indonesia waktu itu sehingga bisa “selamat” relatif dibandingkan negara-negara tetangga. Pertama-tama dibandingkan dulu pertumbuhan GDP Indonesia (nominal, belum memperhitungkan inflasi) dan lima negara lainnya (Malaysia, Filipina, Thailand, Vanuatu dan Vietnam) 2006-2010. Gambarnya seperti ini:

Sumber data: World Bank Indicators  http://data.worldbank.org/indicator/

Tahun 2009, hanya ada empat negara yang memiliki GDP growth positif: Indonesia, Filipina, Vanuatu dan Vietnam. (Jadi tidak benar kalau ada yang berteori bailout Century ada kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi yang positif. Antara tahun 2006-2011  Filipina  melikuidasi 136 bank; tapi GDP growth tetap bisa  positif).

Sekarang mari dibandingkan tren rasio kredit terhadap dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini berarti industri perbankan semakin agresif menyalurkan dana yang dihimpun; bisa terjadi karena dana pihak ketiga tidak cukup perbankan memakai dana antar bank atau wholesale deposit yang mahal dan lebih tinggi resikonya. (Bank-bank di Eropa banyak yang mengalami kesulitan likuiditas karena masalah semacam itu. Terlalu agresif memberikan pinjaman dengan dana dari luar negeri atau dalam mata uang asing. Pada saat pasar uang mendadak ketat mereka tidak bisa memperpanjang pinjaman padahal mata uang  dalam negeri terdevaluasi.) Bisa juga dibandingkan besar rasio ini menjelang krisis moneter 1997/1998 dengan krisis keuangan Amerika 2007/2008:

Sumber data: http://siteresources.worldbank.org/INTRES/Resources/469232-1107449512766/FinStructure_2009.xls.

Kecuali  Vanuatu (data Vietnam tidak lengkap), rasio kredit-dana pihak ketiga negara lain meningkat menjelang krisis ekonomi Asia 1997/1998. Masa pemulihan ekonomi ditandai dengan menurunnya agresifitas industri perbankan; bisa juga karena pasar modal semakin besar peranannya sehingga menjadi kompetitor perbankan.  Negara dengan rasio yang relatif tinggi (tapi masih lebih rendah dibandingkan satu dekade sebelumnya) adalah Vietnam, Indonesia, Malaysia dan Thailand.  Kalau hanya melihat rasio ini, mestinya GDP Vietnam tidak tumbuh tinggi pada tahun 2009 atau paling tidak GDP growth Vietnam akan terkoreksi banyak.

Tapi sekarang mari dibandingkan jenis ekspor (food atau manufacture) dibandingkan dengan total ekspor merchandise kelima negara tersebut (Vanuatu terpaksa dikeluarkan karena data tidak lengkap). Data seperti biasa dari World Bank Indicator:

Sumber data World Bank Indicator

Dari kelima negara itu, Indonesia dan Vietnam ternyata memiliki rasio ekspor food terhadap total ekspor merchandise paling tinggi. Ekspor Indonesia bahkan cenderung meningkat.

Sedangkan kalau gambar prosentase ekspor manufaktur terhadap total ekspor merchandise seperti ini:

Ada dua hal yang penting dari gambar itu: pertama, sejak tahun 1960an ternyata prosentase ekspor manufaktur terhadap total ekspor merchandise negara kita terendah dibandingkan empat negara lain, bahkan Vietnam. Setelah rasio ekspor manufaktur-merchandise mencapai 57% tahun 2000, prosentase ini terus turun, tahun 2010 hanya 37%. Filipina, sebaliknya, memiliki prosentase paling tinggi.

Saya ingat waktu bailout Century masih diributkan, ada komentator di media online yang rajin sekali membuat komentar dimana-mana dengan isi kurang lebih begini “anda yang meributkan bailout tidak merasakan suramnya sektor riil; orderan ekspor berkurang; tapi setelah bailout pelan-pelan mulai ada lagi order dari luar negeri…”. Tentu saja komentar di media online tidak selalu bisa diverifikasi kebenarannya. Tapi kalau toh memang benar seperti itu, penjelasannya begini: waktu kondisi ekonomi negara maju tidak menentu (karena bank dan perusahaan berguguran satu satu minta dibantu pemerintah), pengimpor menunda pembelian barang dan cenderung menumpuk stok. Setelah stok mereka habis, baru order lagi seiring dengan semakin jelasnya situasi ekonomi atau kebijakan ekonomi pemerintah mereka. Bisa jadi yang diprioritaskan untuk diorder adalah “food” bukan produk manufaktur.

Singkat cerita, tanpa menyebut “bailout”, mengapa Indonesia (dan beberapa negara tetangga) tetap tumbuh positif bisa dijelaskan. Untuk Indonesia, GDP growth positif pada tahun 2009 didukung oleh kombinasi perbankan yang tidak terlalu agresif (paska krisis 1997/1998) dalam menyalurkan kredit dan prosentase ekspor food yang cukup tinggi. Kondisi Filipina dan Vietnam berkebalikan:  Filipina  memiliki prosentase ekspor manufaktur yang tinggi dikombinasi dengan rasio kredit -dana pihak ketiga yang rendah menjelang krisis 2007/2008; sedangkan Vietnam memiliki rasio kredit-dana pihak ketiga tertinggi menjelang krisis 2007/2008, sekaligus prosentase ekspor food tertinggi.  Sebaliknya, Malaysia dan Thailand walaupun tidak seagresif Vietnam dalam menyalurkan kredit tapi keduanya memiliki rasio ekspor manufaktur yang tinggi. Itu sebabnya keduanya mengalami GDP negatif.

Mungkin (sekali lagi m-u-n-g-k-i-n), prosentase ekspor food bisa menjadi semacam insulator dari krisis ekonomi. Sayangnya, dalam kondisi normal, prosentase ekspor manufaktur lebih besar pengaruhnya terhadap GDP growth dibanding prosentase ekspor food. Setelah krisis (tahun 2009-2010) GDP Malaysia dan Thailand yang tadinya negatif, tumbuh  lebih besar dari Indonesia. Mungkin, kita musti “mengatur” portfolio ekspor; mencari titik optimum antara  prosentase ekspor Manufacture dan  ekspor food sehingga kalau ada krisis ekonomi, pertumbuhan ekonomi tidak terlalu terpukul (lihat juga pidato  Gubernur Bank Sentral Amerika http://www.federalreserve.gov/newsevents/speech/bernanke20091019a.htm yang juga membahas masalah jalur penularan krisis keuangan tempo hari).

Bicara mengenai ekspor, waktu saya nulis ini, saya baca headline di Kompas cetak kurang lebih “Ekspor Indonesia menurun”  (karena krisis Eropa) dan harus ada tindakan ini-itu… Saya baca juga daerah yang menghasilkan barang ekspor mulai bingung karena permintaan berkurang.

Saya ndak paham kenapa baru ribut sekarang…atau dulu-dulu (jauh sebelum krisis 2007/2008) memang tidak ada apa-apa…atau ada masalah tapi tutup mata? (atau…i am missing something?) Buat saya, angka ekspor Indonesia dari database World Bank ini cukup mencengangkan.  Coba gambar prosentase ekspor manufaktur terhadap ekspor merchandise dilihat lagi…(apa itu tidak mengkhawatirkan?) Atau coba lihat  gambar yang sebelah atas ini: gambar rasio ekspor barang & jasa dibandingkan GDP Indonesia. Pertama, rasio ekspor tidak pernah lebih dari 52,97% kecuali pada tahun 1998 (dan ini pasti karena nilai tukar rupiah yang rendah sekali). Kedua rasio ekspor sejak krisis ekonomi 1997/1998 cenderung turun; bahkan rasio ekspor-GDP Indonesia terendah dibanding negara tetangga (bahkan dibandingkan Vanuatu yang stagnan dan Filipina yang juga cenderung turun!).  Saya tidak tau mengapa rasio kayak gini tidak “diributkan” (no problem barangkali ya??)… atau mungkin pembuat kebijakan ekonomi Indonesia tidak menganut prinsip export led growth?? (Rasio ekspor-GDP Cina dan India juga  kecil. Angka maksimal rasio ekspor tahun 1960-2010 hanya 39% untuk Cina dan 24% untuk India;  tapi tahun 2009 GDP keduanya  tumbuh lebih dari 9% dengan inflasi tahunan Cina  -0,7% dan India 10%). Kalau FDI inflow Indonesia ternyata dipengaruhi oleh rasio ekspor-GDP, gambar semacam itu bikin worry….

Mengantisipasi, mengatasi krisis keuangan 2007/2008 (dengan bailout Century??)

Bagian ini sebenarnya pengulangan (dan penambahan sedikit) dari coret-coret saya di blog yang lain. Sepertinya sih pendapat saya tidak berubah mengenai kaitan antara “bailout dan krisis” (bisa lihat http://grundelanbankcentury.wordpress.com/2010/01/17/leading-indicators-krisis-dan-krisis-dalam-gambar/  ;  http://grundelanbankcentury.wordpress.com/2010/01/06/krisis-dan-krisis-dalam-gambar_update1/ ). Saya akan kasi saran untuk bailout-die harder, bagaimana sebaiknya menyusun pembelaan bailout supaya nampak elegan tidak kelihatan macam oxymoron.

Beberapa tahun lalu, waktu bailout Century sedang rame-ramenya, salah satu bailout die-harder berkomentar panjang lebar di blog saya yang  lain http://grundelanbankcentury.wordpress.com/2010/01/06/krisis-dan-krisis-dalam-gambar_update1/#comments . Katanya, bailout itu kebijakan yang diambil dalam rangka mengantisipasi krisis: ibaratnya “alarm gempa”, katanya. Alarm diaktifkan lalu bikin evakuasi daripada jatuh banyak korban. Buat saya sih, mau alarm gempa kek, mau alarm tsunami kek, mau evakuasi sukarela atau evakuasi paksa, ngomongin krisis ekonomi sih ndak usah pake perumpamaan…malah bingung kalau perumpamaannya tidak pas. Krisis ya krisis, bailout ya bailout, bank jelek ya bank jelek…. Diomongin langsung juga bisa, karena referensi nya buuuaaaanyaaaaakkk bangetttt. Tidak kurang; mau mandi berendam literatur krisis ekonomi juga bisa!   Ada juga pendukung bailout yang bilang kebijakan itu dibikin supaya Indonesia tidak terjerumus ke dalam krisis ekonomi atau krisis perbankan seperti tahun 1997/1998 karena beberapa indikator menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan (cadangan devisa menipis, kurs rupiah bergejolak dan suku bunga pasar uang menjadi tinggi). Katanya, kondisi industri keuangan Indonesia waktu itu “mencekam”, kalau ada likuidasi dikhawatirkan ada rush, dst. Sekian tahun kemudian, ada yang bilang bailout itu yang bikin ekonomi Indonesia selamat dari krisis (sehingga dapat investment grade).

Sebetulnya, kalau mau betul-betul cari tau, definisi krisis keuangan/perbankan/nilai tukar/current account juga sudah banyak ditulis orang yang kredibel di bidangnya (daripada bikin definisi sendiri yang tidak bisa dikonfirmasi rujukannya). Kalau krisis itu ada pada time T, antisipasi krisis mestinya dilakukan di time T-1; kondisi selamat dari krisis ada di time T+1 atau T+2 (tergantung krisis berapa lama). Kebijakan yang diambil di T-1, setau saya, biasanya disebut kebijakan yang ada kaitannya dengan “early warning system”. Cara yang biasa dipakai, satu set variabel ekonomi makro dianalisis lalu dicari yang bisa menjadi leading indicator krisis ekonomi (ada back-testing untuk menguji apa benar indikator makro itu valid sebagai early warning indicator). Tentu saja dipilih indikator yang berfungsi baik dalam memberikan sinyal krisis. Konon, studi mengenai hal ini ada 80.  Saya memang tidak baca semua studi yang 80 itu…tapi kayaknya sih bailout bank bukan salah satu tindakan “early warning”.Dalam kaitannya dengan krisis keuangan 2007/2008 ada yang bilang, leading indicator terbaik untuk krisis adalah “cadangan devisa” (selain “real exchange rate”; lihat  http://www.hks.harvard.edu/fs/jfrankel/SaravelosEWIsNBERWP16047.pdf )

Saran saya, kalau bailout-monger mau cari celah untuk membela kebijakan Sri Mulyani-Boediono, sebaiknya bikin argumen pembenaran bailout lewat “cadangan devisa” Indonesia. Menurut saya, argumen pembenaran bailout lewat effective exchange rate agak susah karena menjelang 2007/2008 tidak ada gejala rupiah terapresiasi/over value; tidak seperti waktu menjelang krisis 1997/1998 (kalau minat bisa lihat disini gambarnya; data diambil dari Bank for International Settlements http://www.bis.org/statistics/eer/broad1201.xls  ).  Jangan menghubungkan bailout Century dengan “kondisi ekonomi yang selamat” apalagi dengan “investment grade” karena tidak ada orang pinter yang bilang “bailout bank”  variabel yang memengaruhi keselamatan ekonomi dan investment grade. (Yang dibelain ekonom terkemuka di negeri ini lho…Jangan bikin malu. Argumentasi bailout tanpa dasar kajian/teori ekonomi won’t work; it stinks!).

Sini saya kasi ide yang menurut saya lebih “cerdas”. Bilang saja gini. Kondisi cadangan devisa Indonesia sempat berkurang sejak krisis Amerika mulai menular ke Eropa semester dua tahun 2008 karena uang yang diparkir di pasar modal/pasar uang Indonesia “dipanggil” pulang (gambarnya bisa lihat di blog yang urlnya saya posting di bagian awal http://grundelanbankcentury.wordpress.com/2010/01/17/leading-indicators-krisis-dan-krisis-dalam-gambar/ ). Pemerintah bahkan sempat kontak IMF siapa tau butuh pinjaman. Apalagi, kurs rupiah juga ikut tertekan karena orang memburu dollar. Menurut saya, kalau cadangan devisa adalah leading indicator economic crisis yang baik (untuk Indonesia), dan kita lihat cadangan devisa berkurang (padahal tidak tau kapan krisis Amerika berakhir), tentu sudah tepat kalau kita kontak sana-sini minta komitmen bantuan supaya cadangan devisa bisa terjaga.

Sudah cadangan devisa berkurang, Indonesia kan juga punya kewajiban luar negeri yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari setahun. Ini saya bikinkan gambar  rasio pinjaman luar negeri jangka pendek dengan cadangan devisa Indonesia dan negara tetangga (angka Filipina ada yang saya keluarkan karena terlalu ekstrim sehingga mengganggu gambar; data aslinya http://data.worldbank.org/indicator/DT.DOD.DSTC.IR.ZS  ). Rasio pinjaman jangka pendek-cadangan devisa yang terlalu tinggi dianggap berbahaya karena menunjukkan cadangan devisa yang pas-pasan; bisa mengundang spekulan menyerang mata uang (seperti waktu menjelang krisis ekonomi 1997/1998). Bisa dibandingkan rasio short term debt-reserves menjelang krisis moneter 1997/1998 dengan kondisi menjelang krisis keuangan Amerika 2007/2008. Itu pada gambar di atas kan kelihatan, rasio agak naik sedikit antara tahun 2006-2008…silakan saja dieksploitasi sebagai dalih “early warning system” bahwa ekonomi Indonesia heading to severe crisis.

Tapi, menurut saya, kalau bailout Century mau menjadi bagian dari “early warning system”, ya harus ada bukti aktivitas bank ini dominan dalam hal-hal yang berkitan dengan cadangan devisa Indonesia. (Bailout saya artikan sebagai penyertaan pemerintah pada seluruh atau sebagian dari saham bank; bukan sekedar pinjaman temporer) Mungkin bank ini punya pinjaman luar negeri terbesar dan akan jatuh tempo segera (sehingga kalau tidak dibailout berpotensi menimbulkan “keributan” diantara investor luar negeri?”)…. Hal semacam ini terjadi pada bank-bank di negara Eropa. Di Azerbaijan beberapa bank diberi pinjaman oleh pemerintahnya walaupun tidak diambilalih ( lihat http://ada.edu.az/uploads/file/bw/pdf233.pdfhttp://www.eurasianet.org/departments/insightb/articles/eav120108a.shtml ). Di Kazakhstan beberapa bank besar diambilalih pemerintah karena mengalami kesulitan likuiditas, tidak bisa memperpanjang utang luar negerinya…. Nah ini mungkin bisa jadi inspirasi….( lihat http://www.kimep.kz/files/BCB/cabj2/pp_66-70_Anichshenko.pdf ; http://www.snb.ch/n/mmr/reference/sem_2011_05_15_turekhanova/source ; http://www.eurasianet.org/departments/insightb/articles/eav020409.shtml ; http://www.eurasianet.org/departments/news/articles/eav030609b.shtml ). Saya juga bikinkan gambar rasio pinjaman jangka pendek-reserves Indonesia dengan Kazakhstan disini bisa dibandingkan….)  Jadi, coba dilihat lagi bagaimana peran atau share bank Century pada pinjaman luar negeri Indonesia waktu itu…kalau ternyata tidak ada atau share-nya kecil yaaa….

Untuk mereka yang militan membela kebijakan bailout Century dengan alasan waktu itu ekonomi Indonesia lagi mencekam (jadi alasannya bukan untuk antisipasi tapi mengatasi krisis) sebaiknya menggunakan framework orang pinter yang bikin studi krisis ekonomi/finansial/nilai tukar supaya tidak kedodoran menghubung-hubungkan variabel yang tidak pernah ada orang yang menghubungkannya. Menurut saya, membela bailout lewat jalur penanganan krisis lebih sulit. Pertama, bailout die-harder harus bisa membuktikan apa betul Indonesia ada dalam fase krisis waktu itu? (Lihat lagi definisi “krisis ekonomi”…daripada bikin definisi sendiri…) Memang susahnya, waktu itu bailout dikucurkan -katanya- dengan dasar Perpu No. 4 tahun  2008 tentang JPSK…jadi “krisis harus ada” karena Perpu itu cuma bisa dipakai kalau ada krisis keuangan http://www.lps.go.id/v2/data/peraturan/Perpu_4_Tahun_2008.pdf . Kedua, dari hasil studi yang membahas karakter negara yang terhindar dari krisis (yang gambar-gambarnya sudah saya pamerkan di atas) bisa dilihat Indonesia memiliki ciri ekonomi yang cenderung tidak  kena krisis finansial 2007/2008. Ketiga, bahkan peneliti IMF saja tidak menggolongkan Indonesia kedalam kelompok negara yang mengalami krisis (bahkan borderline crisis saja tidak).  Lihat http://www.imf.org/external/pubs/ft/wp/2011/wp1145.pdf  halaman 26; lihat juga daftar negara yang menurut mereka kena krisis di http://www.imf.org/external/pubs/ft/wp/2010/wp10146.pdf halaman 9 ; bahkan mengalami fiscal crisis, kata peneliti IMF, juga tidak http://www.imf.org/external/pubs/ft/wp/2011/wp11100.pdf halaman 32. Penilaian dari yang bukan peneliti IMF lihat  http://www.odi.org.uk/resources/docs/3339.pdf  . Jadi gimana ni…??? Bukankah amat sangat lucu sekali, orang luar yang pinter-pinter bilang tahun 2007/2008 kita tidak krisis, kok (pemerintah) kita malah “meng-krisis-kan ekonomi sendiri”….

Lain pemerintah lain kebijakan (apa hubungannya dengan korupsi?)

Ada orang pinter yang mengkaitkan sistem politik (demokratis – otoriter) dengan pilihan kebijakan bailout-likuidasi http://press.umich.edu/pdf/9780472117130-ch1.pdf. Katanya, pemerintahan yang otoriter akan cenderung membuat kebijakan bailout (=membebani warganya / pembayar pajak) sedangkan pemerintahan yang demokratis akan cenderung selektif dalam melakukan bailout. Orang pinter ini juga memberi contoh krisis ekonomi di Mexico dan Argentina pada pertengahan tahun 1990an. Katanya, pemerintah Argentina yang lebih demokratis (waktu itu)  memilih penyelesaian masalah di industri perbankan dengan semangat “market friendly”. Sebaliknya Mexico (yang cenderung otoriter) terlalu banyak campur tangan pemerintah. Akibatnya krisis ekonomi di Mexico berlarut-larut sementara di Argentina cepat selesai. Ada orang pinter dari Federal Reserve mengobservasi hal yang sama, walaupun tidak dikaitkan dengan politik: lain pemerintah bisa lain kebijakan dalam penanganan krisis http://www.stlouisfed.org/publications/pub_assets/pdf/re/2011/b/banking%20crisis.pdf

Berangkat dari “ide” orang pinter ini saya jadi curious berat: jangan-jangan pilihan bailout atau likuidasi ada kaitannya dengan persepsi korupsi suatu negara…. Kebetulan, persepsi korupsi di Argentina pertengahan tahun 1990an lebih baik dari Mexico (data dari World Bank Governance Indicator). Sayangnya kondisi terakhir menjadi terbalik: persepsi korupsi Argentina memburuk, sedangkan Mexico membaik.

Saya tidak mengatakan pembuat kebijakan bailout adalah koruptor.  Setau saya, tidak ada teori yang merekomendasikan atau menganjurkan pengambilalihanbank/lembaga keuangan pakai uang publik (=non swasta) karena pertimbangan moral hazard (yang minat bisa baca http://grundelanbankcentury.wordpress.com/2009/11/24/bank-century-dan-resiko-sistemiknya-yang-misterius-itu/). Kalau toh ada, biasanya dengan “catatan/syarat” yang banyak sekali. Tapi faktanya  bailout terus terjadi, seolah sudah jadi bagian dari respon pemerintah kalau industri keuangan ada masalah. Entah karena alasan bank itu too big to fail, alasan sistemik (bukan “di-sistemik-kan”), atau karena yang dibailout adalah bank/lembaga keuangan yang punya koneksi (apapun bentuknya), langsung atau tidak langsung dengan pembuat kebijakan bailout. Koneksi bisa berupa kepemilikan (bank pemerintah), bisa juga karena pemiliknya penyumbang dana kampanye, kroni para pembuat keputusan, dst. Cerita mengenai “koneksi politik dan bailout” ini sudah banyak beredar (bisa lihat di http://www.afajof.org:443/afa/forthcoming/2890.pdf ; juga http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1426219 yang bercerita mengenai “peran politisi dalam keputusan bailout di Amerika pada saat krisis finansial 2007/2008”; untuk bailout Kazakhstan dan siapa yang terlibat bisa lihat http://www.eurasianet.org/departments/insightb/articles/eav031109.shtml).

Untuk sekedar lucu-lucuan, saya iseng mengumpulkan indeks Control of Corruption beberapa negara Eropa yang masuk dalam daftar negara yang mengalami krisis atau borderline crisis (url paper sudah saya tulis sebelumnya http://www.imf.org/external/pubs/ft/wp/2011/wp1145.pdf ) , yaitu Denmark, Iceland/Islandia, Kazakhstan, Latvia dan Rusia. Sumber data Control of Corruption dari World Bank Governance Indicator http://info.worldbank.org/governance/wgi/index.asp

Mari dilihat: di Denmark, dari tahun 2008-2011 sudah ada 11 bank dilikuidasi, termasuk bank kedua terbesar di negara itu. Konon akan ada 15 bank lagi yang layak ditutup (lihat http://online.wsj.com/article/BT-CO-20110929-701946.htmlhttp://www.rte.ie/news/2011/0627/denmark-business.html ; http://www.alarabiya.net/articles/2011/07/28/159836.html). Masih ingat Islandia yang punya gunung dengan nama susah -Eyjafjallajokull- meletus tahun 2010 dan bikin penerbangan internasional kacau? Tiga bank terbesar negara ini memiliki aset 10x lipat GDP Islandia; celakanya, ketiganya bangkrut karena tidak bisa memperpanjang pinjaman dalam mata uang asing di pasar uang internasional. Pemerintah Islandia akhirnya mengambilalih dan melikuidasi ketiganya (Lihat http://www.economist.com/node/12762027 ; http://news.bbc.co.uk/2/hi/7851853.stm ; http://www.guardian.co.uk/business/2008/oct/07/iceland.banking ). Denmark dan Islandia menggunakan konsep “winding up company” dalam proses likuidasi bank mereka. Bank yang diambilalih dipecah dua, bank bagus-bank jelek. Bank bagus  terus beroperasi (sementara); bank jelek dipakai untuk menyelesaikan aset bermasalah. Di Latvia  bank kedua terbesar (bank lokal), Parex, mengalami kesulitan likuiditas dan akhirnya harus dibailout. Tapi akhirnya pemerintah Latvia merestrukturisasi dan melikuidasi bank itu (cerita mengenai penanganan Parex dan bagaimana tingkah laku bank ini cukup menarik http://www.baltic-course.com/eng/finances/?doc=28578   ; http://balticreports.com/?p=23112 ; http://www.baltic-course.com/eng/finances/?doc=22011http://www.businessweek.com/news/2011-12-22/tale-of-missing-1-6-billion-a-bankrupt-baltic-bank-and-soccer.html ; http://www.reportingproject.net/proxy/latvian-bank-woes ; http://www.businessweek.com/globalbiz/content/dec2008/gb2008125_793417.htm ; http://www.osw.waw.pl/en/publikacje/ceweekly/2009-10-07/latvia-doubts-over-parex-bank-bailout ).  Otoritas perbankan Rusia membailout bank tapi juga melikuidasi bank. Bank yang dibailout diambilalih oleh bank lain melalui lembaga investasi pemerintah atau lembaga penjamin deposito (lihat http://epub.ub.uni-muenchen.de/10996/1/LMU0916-Rucrisis.pdf ). Saya tidak tau ini kebetulan atau tidak, tapi indeks/skor Control of Corruption Denmark dan Islandia memang lebih tinggi (positif, diatas 2) dibanding Kazakhstan, Latvia dan Rusia. Rata-rata indeks Control of Corruption Latvia antara 1996-2010 memang positif tapi hanya 0,04 ; skor ini lebih baik dibanding Rusia (-0,92) dan Kazakhstan (-0,99).

Kalau di sekitar sini, Indonesia dan Filipina sebetulnya tidak termasuk dalam daftar negara yang mengalami krisis (Malaysia, Thailand, Vietnam juga tidak). Dari sisi skor korupsi, Indonesia dan Filipina sebenarnya sebanding. Rata-rata skor Control of Corruption 1996-2010 untuk Indonesia adalah -0,82 sedangkan Filipina -0,56. Hanya saja, seperti nampak pada gambar di sebelah, skor korupsi Indonesia pada tahun 2006 membaik. Kalau dirata-rata, sejak tahun 2006 sampai 2010 skor Indonesia -0,69 sedangkan Filipina -0,75. Tapi Filipina (yang memiliki indeks Control Corruption memburuk) lebih berani melikuidasi bank nya. Entah karena industri perbankan Filipina lebih buruk dari Indonesia, atau karena otoritas pengawas Filipina lebih “ringan tangan”, sejak 2006 sudah 136 bank dilikuidasi (kebanyakan memang bank semacam BPR yang jumlahnya sekitar 800an http://asianbankingandfinance.net/retail-banking/news/philippine-rural-banks-decline-in-number-0). Rinciannya: 11 bank dilikuidasi tahun 2006; 17 bank tahun 2007; 25 bank tahun 2008; 31 bank tahun 2009; 23 bank tahun 2010 dan 29 bank ditutup tahun 2011 ( http://www.financemanila.net/2008/12/rural-bank-run-10-banks-close-in-a-week/ ; http://www.philstar.com/Article.aspx?articleId=630433&publicationSubCategoryId=74 ; http://www.pdic.gov.ph/index.php?nid1=8&nid2=3&nid=411&ntype=1&go=&page=12http://www.intellasia.net/news/articles/regional/111255646.shtml ). Otoritas pengawas bank Filipina demikian “agresif” menutup bank sampai-sampai ada kasus bank yang sama ditutup dua kali! (dan tentu saja menimbulkan masalah hukum karena bank yang ditutup tidak terima….Itu seru lo ceritanya http://www.bworldonline.com/content.php?section=TopStory&title=Bank%E2%80%99s-closure-ruled-illegal&id=46059 ; http://grbusinessonline.com/wp/?p=895 )

Sebetulnya kalau data World Bank Governance Indicator dibandingkan, Indonesia memiliki skor governance 2006-2010 yang cenderung lebih baik dari Filipina. Mungkin itu sebabnya ya, lebih banyak bank dilikuidasi di Filipina daripada di Indonesia karena Indonesia punya institusi perbankan lebih baik (??). Sebagai perbandingan, menurut laporan tahunan Lembaga Penjamin Simpanan http://www.lps.go.id/v2/data/publikasi/LPS%20AR%202010.pdf , sejak 2006 hanya ada 31 likuidasi bank: 30 BPR, 1 bank umum; jumlah BPR di Indonesia sekitar 1868 (lebih banyak dari Filipina).  Mungkin juga karena institusi perbankannya lebih baik makanya tempo hari lebih suka membailout bank  ya?? (wah kok malah bingung..hehe)

Entah pilihan likuidasi-bailout di Indonesia dan Filipina itu outlier atau anomali, saya jadi wondering juga dengan pilihan likuidasi-bailout di Amerika dan Inggris…. Bukankah negara itu (terutama Amerika) membailout banknya gila-gilaan? (Amerika selain membailout bank juga melikuidasi bank, seperti Rusia). Masa indeks control of corruption dua negara itu negatif? Kalau saya lihat, negatif sih tidak, tapi…tren indeks control of corruption dua negara itu menarik (given mereka adalah negara maju)… Gambarnya seperti disebelah ini… (bandingkan dengan Denmark dan Islandia)….

Yah namanya juga cuma coret-coret untuk lucu-lucuan saja…jangan terlalu serius….

5 responses »

  1. Maaf untuk yang gagal ketika berusaha mendownload url artikel di blog http://grundelanbankcentury.wordpress.com/2010/01/17/leading-indicators-krisis-dan-krisis-dalam-gambar/
    Mungkin karena sudah agak lama, url dari sononya bisa berubah. Ada artikel mengenai krisis keuangan Kroasia yang tadinya bisa dilihat di url http://www.eizg.hr/AdminLite/FCKeditor/UserFiles/File/ces4-ahec-sonje.pdf, sekarang urlnya berubah jadi ini http://hrcak.srce.hr/file/9657

  2. anda: “Jadi, coba dilihat lagi bagaimana peran atau share bank Century pada pinjaman luar negeri Indonesia waktu itu…kalau ternyata tidak ada atau share-nya kecil yaaa….”

    ——
    Well..

    EU GDP: €12.629 trillion. Greece GDP: €215 billion (0,01 % nya EU!!)

    Terus kenapa gara2 YUNANI (negara seupil / negara nol koma nol); seluruh eropa bisa terguncang bertahun2 hingga sekarang?

    Terus kenapa gara2 aksi SEORANG tukang buah; tunisia, libya, mesir, dan daerah timur tengah lainnya bisa terguncang?

    Trus kenapa gara2 SATU puntung rokok di musim kemarau yang EKSTREM; satu hutan bisa terbakar?

    ~~~

    Oh, tidak century terlalu kecil dan indonesia baik2 saja waktu itu.

    Tidak ada krisis ekonomi di Indonesia

    Tidak ada krisis kepercayaan di Indonesia

    Tidak ada depresiasi rupiah

    Tidak ada kekeringan likuditas

    Tidak ada penurunan cadangan devisa

    Tidak ada capital outflows besar2an

    Tidak ada penerapan blanket guarantee di negara tetangga

    All was well, all was well.

    #Salam terguncang.

    • Makanya belajar ilmu ekonomi dengan benar. Jadi bisa membedakan krisis ekonomi dan krisis ekonomi bikinan tukang sulap….
      Siapkan saja argumen2 itu untuk belain pembuat kebijakan bailout, siapa tau penegak hukum negeri ini berani bawa mereka ke pengadilan untuk diminta pertanggungjawaban spending spree 6,7 T ….dan berapa harganya Century sekarang dan tahun depan??

  3. Dear Srikripik,

    Saya masih setia menjadi penggemar tulisan-tulisan anda ya yang renyah. Mencerahkan dan begitu bermakna, dng bahasa yang lugas dan tidak ngawur. Keep writing ya Bung Srikripik, ditunggu tulisan2 renyah lainnya karena sudah lama saya rasa anda tidak nulis lagi.
    Anyway, I feel I know you somehow….gaya tulisan anda tidak asing bagi saya, ketika membaca tulisan di jurnal. Salam hormat saya untuk Anda🙂

    Best regards

    • Terimakasih masih mampir di blog yang sudah “dusty” karena tidak atau belum saya update setahun (atau setahun lebih). Sebetulnya saya berharap bisa produktif, rajin nge-blog. Sayangnya untuk bikin satu tulisan saja butuh waktu untuk kumpulin bahan (saya bukan orang pinter yang bisa nulis tanpa baca referensi dulu). Butuh waktu juga untuk proses penulisan, editing, cari cartoon atau ilustrasi tulisan (ini proses yang justru paling saya sukai…hehe). Begitu nulis biasanya malah jadi susah berhenti akibatnya tulisan tidak juga selesai… sementara isu yang sedianya akan ditulis sudah out of date…. Itu salah satu sebab vakum lama…tidak bisa “catch up” dengan isu. Selain itu, kayaknya isu ekonomi/perbankan belakangan ini tidak terlalu baru: kurs rupiah, defisit neraca…apa lagi ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s