Siapa menyabot transmisi moneter?

Standard
http://funny.blat.co.za/2010/05/

Sabotase transmisi moneter???  Awwww…. judul lebaaaay…

Tapi daripada bikin judul seperti ini “efektifitas transmisi moneter di Indonesia” atau ini “peran perbankan Indonesia dalam transmisi moneter”… Bacanya saja langsung nek. Catatan kaki kok pake judul serem begitu…

Tentu saja tidak ada yang menyabot transmisi moneter dalam arti “sengaja dan terencana” macam teroris. Disini mau coret-coret saja, melanjutkan catatan yang lalu, mengenai bagaimana bank bisa tidak efektif dalam mentransmisikan moneter.

Dimulai dari setting begini: BI menurunkan suku bunga. Bank diharapkan merespon sinyal bank sentral; menurunkan bunga kredit. Tapi ternyata tidak; suku bunga dana memang turun. Tapi tidak demikian dengan suku bunga kredit. Dengan kata lain: sinyal bank sentral direspon dengan lambat. Kenapa transmisi moneter melalui perbankan tidak efektif?

Ada banyak jalur monetary transmission. Bagannya kalau mau tampak lebih jelas di klik saja. Bisa juga lihat disini M_Transmission (http://www.newyorkfed.org/research/epr/02v08n1/0205kutt.pdf); kalau mau lebih ruwet bisa lihat yang ini M_Transmission2 (dari http://www.lrz.de/~ces/egert-lect3.pdf). Perbankan adalah salah satu jalur transmisi moneter, melalui entah itu lending channel, bank capital channel, atau interest rate channel. Teorinya, kalau bank sentral menurunkan suku bunga, berarti bank diharapkan menurunkan suku bunga dana dan kredit; banyak “melepas” uang atau banyak memberi kredit. Modal bank juga jadi salah satu jalur transmisi moneter karena modal bank erat kaitannya dengan kemampuan investasi bank.  Misalnya kalau bank bermodal pas-pasan, atau bankir mengantisipasi ada persyaratan rasio modal yang lebih tinggi, biasanya, bank tidak akan terlalu responsif terhadap sinyal bank sentral.

Intinya, transmisi moneter melalui jalur perbankan bisa saja tidak efektif  dengan berbagai alasan. Kalau perbankan sedang konsolidasi, misalnya sedang sibuk meningkatkan modal atau membersihkan neraca dari kredit macet, sinyal bank sentral bisa kurang direspon. Sebaliknya, perbankan sehat dan baik-baik saja, juga bisa kurang responsif. Misalnya begini. Ada studi yang menyimpulkan, “size matters” : bank besar biasanya tidak terlalu responsif dengan “gertakan otoritas moneter”. Misalnya otoritas mau kontraksi, suku bunga naik, bank besar bisa ogah-ogahan karena funding base-nya kuat dan lebih beragam. Inovasi produk perbankan (sekuritisasi) juga bisa memengaruhi transmisi moneter. Kalau  bank aktif mengubah kredit menjadi surat berharga, ekspansi atau kontraksi ekonomi melalui pinjaman tidak akan terlalu efektif. Hal lain yang memengaruhi adalah peraturan-peraturan perbankan baik nasional maupun internasional.  Sekarang ini konon, Basel III sedang didiskusikan. Katanya, aturan internasional yang baru akan diumumkan September 2011. Bankir-bankir Indonesia pasti sudah mengantisipasi, aturan itu, entah berkaitan dengan modal atau tidak, akan “menambah beban” bukan “meringankan”. Mereka juga sudah siap-siap, begitu aturan internasional diberlakukan, otoritas pengawas (BI) pasti akan ngikut. Jadi,menurut saya, tidak perlu nagging karena perbankan Indonesia masih pasang suku bunga kredit tinggi. Lebih baik dicari penyebabnya. 

Gara-gara kompetisi dan konsentrasi perbankan?

Ada orang-orang pinter yang bilang, konsentrasi dan kompetisi industri perbankan ikut memengaruhi efektifitas transmisi moneter. Tapi pengaruhnya beragam, tidak konsisten. Misalnya, ada yang bilang semakin tinggi konsentrasi industri perbankan, transmisi moneter jadi tidak efektif (http://www.ecb.int/pub/pdf/scpwps/ecbwp072.pdf ; ada lagi http://faculty.lebow.drexel.edu/OliveroM/research/Consolidation_paper_Oct_27_2010.pdf).   Sayangnya,  kebanyakan periset mengenai pengaruh konsentrasi perbankan pada transmisi moneter tidak membedakan antara konsentrasi dan kompetisi. Yang dipakai ukuran konsentrasi tapi sambil berasumsi ukuran konsentrasi bisa jadi ukuran kompetisi. Maksudnya, ada asumsi implisit, kalau konsentrasi industri perbankan tinggi, kompetisi pasti rendah atau tidak ada. Asumsi implisit yang tidak terlalu tepat itu diambil, mungkin karena kebanyakan peneliti masalah transmisi moneter dan hubungannya dengan kompetisi/konsentrasi adalah peneliti dari unit kerja moneter di bank sentral.

Setau saya, untuk industri perbankan, hubungan kompetisi-konsentrasi tidak selalu berbanding terbalik (dongengan lengkap bisa lihat di http://www.dnb.nl/en/binaries/Measures%20of%20Competition_tcm47-145799.pdf). Jelasnya, belum ada teori yang kuat mengenai hubungan konsentrasi dan kompetisi perbankan. Ada studi yang berkesimpulan konsentrasi perbankan berbanding terbalik dengan kompetisi. Ada yang sebaliknya: biarpun konsentrasi berkurang, kompetisi malah semakin rendah.  

Kebetulan, perbankan Indonesia jadi omongan karena katanya didominasi bank besar. Gara-gara dominasi bank-bank besar inilah suku bunga kredit tinggi, interest margin tinggi. Atau kalau “tuduhan” itu dinyatakan dalam kalimat lain: dominasi bank besar di Indonesia itulah yang jadi penyebab transmisi moneter tidak efektif. Apa benar begitu?

Mengukur kosentrasi – kompetisi industri perbankan

Karena kompetisi dan konsentrasi memengaruhi transmisi moneter, menurut saya, mustinya dipahami dulu bagaimana orang pinter pada disiplin ilmu Industrial Organization mengukur kompetisi dan konsentrasi khususnya industri perbankan.  Setelah sepakat cara ukur, dibikin kajian mengenai kaitan konsentrasi-kompetisi perbankan Indonesia dengan efektifitas transmisi moneter. Maklum, kompetisi dan konsentrasi industri perbankan itu dinamis. Kalau betul ada pengaruhnya ke transmisi moneter, efektifitasnya pasti bervariasi. Setau saya, selama ini tidak ada patokan seberapa idealnya konsentrasi perbankan Indonesia. Saya lihat di web Komisi Pengawas Persaingan Usaha, juga tidak ada. Mungkin ada tapi tidak diumumkan ya??

Banyak metode untuk  mengukur konsentrasi dan kompetisi. Angka atau skor yang dihasilkan kadang tidak konsisten antara satu metode dengan metode yang lain. Praktisi dan periset biasanya lalu bersikap pragmatis: yang paling sering dipakai adalah metode yang bisa mengakomodasi data yang tersedia.  Mereka yang sering bikin riset mengenai market structure bilang, metode paling populer untuk mengukur konsentrasi industri perbankan ada dua. Pertama, concentration ratio (CR; tidak ada hubungannya dengan Christiano Ronaldo), kedua, Herfindahl-Hirschman Index (HHI). Dari dua cara itu, metode concentration ratio paling mudah karena tinggal menghitung porsi pasar beberapa perusahaan terbesar. Yang dimaksud “beberapa” disini bisa tiga (CR3), empat (CR4) atau lima (CR5). HHI juga tidak terlalu sulit, tapi jumlah seluruh perusahaan disatu industri harus diketahui. Ada juga yang bilang, HHI bisa diukur dari 50 perusahaan utama di suatu industri. Skor HHI didapat dengan cara menjumlahkan hasil kuadrat pangsa pasar tiap perusahaan. Kalau suatu industri tidak terkonsentrasi, HHI akan mendekati nol, sebaliknya kalau sangat terkonsentrasi akan mendekati 10000. Skor HHI kadang dinyatakan dalam prosentase; tinggal dibagi 100 saja.

Kompetisi, biasanya diukur entah dengan Lerner Index (LI) atau Panzar Rose model (H-statistics). Lerner Index ini sebetulnya mengukur market power. Semakin tinggi skor berarti semakin besar kekuatan pasar perusahaan atau industri; berarti semakin tidak ada kompetisi. Kalau skor Lerner Index mendekati 0, artinya perusahaan tidak punya market power; ada dalam situasi “perfectly competitive market”. H-statistics lebih banyak dipakai untuk mengukur kompetisi. Skor H-statistics antara 0 dan 1. Katanya begini: kalau skor H-statistics <0= monopoli; antara 0 s/d 1 = monopolistic competition  ; sedangkan H-statistics >1= perfect competition. (Beda monopolistic competition dengan oligopoli bisa dilihat di http://www.amosweb.com/cgi-bin/awb_nav.pl?s=wpd&c=dsp&k=oligopoly+and+monopolistic+competition.)

Masing-masing metode ukur kompetisi-konsentrasi ada kelemahan.  Itu sebabnya, seperti yang telah dikemukakan,  data yang tersedia akhirnya menjadi salah satu penentu metode yang dipilih. Kementrian Kehakiman dan Federal Trade Commission di Amerika misalnya, menggunakan HHI untuk mengevaluasi market power ( http://www.ftc.gov/opp/jointvent/classic3.shtm). Kriteria skor HHI Amerika sekarang : HHI dibawah 1500 adalah unconcentrated market; antara 1500-2500 adalah moderately concentrated; diatas 2500 concentrated.  Merger horisontal akan jadi ‘urusan’  kalau perusahaan ada  di moderately dan highly concentrated market (Panduan merger Amerika bisa dilihat di http://ftc.gov/os/2010/08/100819hmg.pdf).

Perbankan Indonesia: monopolistic competition atau oligopoli?

Kalau ada yang bilang  industri perbankan Indonesia itu oligopolistik atau ada kartel, atau bahkan harus didorong untuk lebih banyak melakukan merger, mestinya yang bilang ini sudah baca atau bikin kajian sesuai teori. Hitungan sudah dibikin sesuai dengan metodologi yang biasa dipakai di ilmu perbankan. Karena saya tidak menemukan kajian semacam itu, iseng-iseng saya cari hasil penelitian orang-orang pinter yang kebetulan memakai data Indonesia.

Kayaknya, industri perbankan Indonesia belum tentu oligopolistik; yang jelas bukan “perfect competition” dan bukan “monopoly”.  Misalnya ada yang bilang, antara tahun 1996-2001, skor H-stastics Indonesia 0,62 (http://www.luclaeven.com/papers_files/2004%20CL%20Bank%20Competition%20JMCB.pdf) . Ada yang mengukur skor H-statistics Indonesia dan empat negara lainnya di Asia dari tahun 1996-2004 (http://www.networksfinancialinstitute.org/Lists/Publication%20Library/Attachments/62/2006-WP-13_Hassan-Hussain.pdf). Skor Indonesia antara 0,13 (terendah, tahun 2000) dan 0,63 (tertinggi tahun 1997).  Ada lagi tiga orang pinter-pinter yang mengukur pengaruh kompetisi pada lending channel di 10 negara Asia dan 10 negara Amerika Selatan antara tahun 1996-2006. Indonesia punya H-statistics rata-rata 0,055 dan 0,351 (mereka pakai dua metode H-statistics; bisa dilihat di http://faculty.lebow.drexel.edu/OliveroM/research/Olivero-Li-Jeon-JBF.pdf ).

Ada yang mengukur kompetisi pakai Lerner Index, hasilnya rata-rata 0,2179 antara tahun 1995-1999  (http://www.uv.es/maudosj/documentos/maudos%20and%20nagore-final%20version.pdf ) . Tapi ada juga yang menghitung Lerner Index tiap tahun dari tahun 1999-2007 (http://www.accessecon.com/Pubs/EB/2010/Volume30/EB-10-V30-I3-P196.pdf). Hasilnya skor LI cenderung meningkat dari 0,3689 pada tahun 1999 menjadi 0,7516 pada tahun 2007.  Ada juga yang mengukur Lerner Index perbankan Indonesia dari tahun 1995-2009 JBF_3408 . Skor rata-rata 0,21-0,26; (tapi kok perisetnya bilang “…competition within Indonesian banking market is relatively low…” ??? Apa tidak terbalik ya: skornya rendah berarti market power rendah; market power rendah berarti kompetisi tinggi… Ini kalau Lerner Index mau dipakai sebagai indikator kompetisi….). Studi lain yang menggunakan data 70 negara antara tahun 1992-2002, salah satunya Indonesia, menemukan skor Lerner Index Indonesia 0,334(http://www.unioviedo.es/fgonzale/woking/Buffer.pdf ).

Menurut saya, kalau betul ada “dominasi”, mestinya skor Lerner Index atau market power perbankan Indonesia tinggi, mendekati 1. Mungkin, skor Lerner terlihat rendah karena kebanyakan angka yang ditampilkan pada sebagian besar studi adalah angka rata-rata (kecuali studi  http://www.accessecon.com/Pubs/EB/2010/Volume30/EB-10-V30-I3-P196.pdf). Demikian pula dengan concentration ratio; kalau ada dominasi mestinya cenderung meningkat. Tapi, “anehnya”,  concentration ratio perbankan Indonesia selama 10 tahun terakhir sebetulnya cenderung turun. Tahun 2001 CR3 46,93%; tahun 2010 turun menjadi 37,54%.

 Dibilang “aneh” ya tidak aneh juga sebetulnya. Karena, seperti yang sudah saya kemukakan, memang menurut cerita-cerita perbankan, antara “concentration” dan “competition” hubungannya tidak selalu berbanding terbalik. Siapa tahu, di Indonesia market power tinggi (=kompetisi rendah) walaupun konsentrasi perbankan rendah?? Belum lagi antara skor Lerner Index dan H-statistics ternyata tidak selalu konsisten…  Jadi kayaknya market structure perbankan Indonesia harus dipelajari lebih detil, sebelum diberi label “ada kartel” atau “oligopoli”. 

Konsentrasi-kompetisi dan transmisi moneter Indonesia

Dari kajian orang-orang pinter mengenai konsentrasi-kompetisi perbankan Indonesia, iseng-iseng angkanya saya contek, lalu saya bandingkan dengan angka suku bunga di Indonesia. Idealnya, tentu saja, ada model ekonometri yang dibikin dengan data untuk mempelajari hubungan antara Lerner Index dengan respon perbankan terhadap suku bunga bank sentral. Kalau cuma membandingkan gambar, jelas kurang afdol. Tapi buat lucu-lucuan, kayaknya sudah memadai-lah. Hasilnya seperti ini: 

Data skor Lerner Index dari studi http://www.accessecon.com/Pubs/EB/2010/Volume30/EB-10-V30-I3-P196.pdf); data suku bunga kredit dan BI rate dari BPS; data CR3 dari hitungan sendiri yang angkanya diambil dari publikasi BI. Bunga KMK=bunga Kredit Modal Kerja; KI= Kredit Investasi; KK=Kredit Konsumsi.
 

Dari gambar barusan, mungkin (sekali lagi,  m-u-n-g-k-i-n), market structure perbankan Indonesia dalam jangka panjang tidak ada hubungannya dengan respon perbankan dalam mentransmisikan kebijakan moneter. Lerner Index, yang mengindikasikan market power, cenderung meningkat dari tahun 1999-2007. Concentration ratio, sebaliknya, cenderung turun. Suku bunga kredit cenderung turun mengikuti BI rate.

Memang kalau grafik dilihat mulai dari titik tahun 2005 ke kanan, kita bisa ambil kesimpulan berbeda. Seolah-olah, concentration ratio, Lerner Index ada kaitannya dengan gap antara BI rate dan suku bunga kredit perbankan (grafik kelihatan serasi, menunjukkan kecenderungan yang sama). Coba saja tutupi grafik sebelah kiri dengan tangan sehingga yang kelihatan hanya tahun 2005-2010….Analisis parsial dari gambar itu, kira-kira akan seperti ini: Sejak tahun 2006, konsentrasi perbankan (CR3) agak meningkat, walaupun masih lebih rendah dibanding sebelum tahun 2006. Angka Lerner Index juga meningkat. Suku bunga kredit perbankan sejak 2005 memang cenderung turun mengikuti BI rate, tapi selisih atau gap antara BI rate dengan bunga kredit perbankan nampak semakin besar. Indikasi transmisi moneter semakin kurang efektif selama lima tahun terakhir karena market structure(?).  Coba ini saya punya gambar satu lagi:

Dari gambar disebelah nampak, suku bunga kredit perbankan sejak 2002 memang punya gap yang besar dengan suku bunga BI (entah itu BI rate atau bunga SBI 1 bulan). Rata-rata selisih sekitar 4%. Menurut saya, kalau transmisi moneter efektif, selisih suku bunga BI dan kredit perbankan bisa lebih kecil. Jadi kalau dua gambar terakhir digabungkan akan nampak, apapun yang terjadi dengan konsentrasi perbankan dan skor Lerner Index tidak berpengaruh terhadap selisih bunga bank sentral dan bunga kredit perbankan.

Penyabot transmisi moneter?

Jadi siapa yang bikin transmisi moneter Indonesia tidak efektif? Seperti yang telah dikemukakan pada bagian awal, efektifitas transmisi moneter dipengaruhi banyak hal. Market structure perbankan, adalah salah satunya. Dari gambar-gambar yang saya pamerkan, nampaknya market structure perbankan Indonesia tidak ada hubungannya dengan efektifitas transmisi moneter. Maksudnya, selama satu dekade terakhir skor market structure bisa naik turun, tapi ternyata gap antara suku bunga bank sentral dan perbankan tetap tinggi. Atau dengan kata lain, nampaknya, market structure perbankan Indonesia tidak ada hubungan langsung dengan efektifitas transmisi moneter. Hanya saja perlu diingat, ini cuma coret-coret untuk lucu-lucu. Makanya, analisis cuma sebatas visual grafis; tidak pakai model ekonometri.

Transmisi moneter konon juga dipengaruhi oleh kinerja perbankan, misalnya efisiensi perbankan(www1.pacific.edu/cop/economics/colloquium/Abstractskk.doc ; juga http://www.eefs.eu/conf/Athens/Papers/624.pdf). Di sisi lain, efisiensi perbankan dan financial stability juga dipengaruhi oleh market structure. Siapa tahu untuk Indonesia, efektifitas transmisi moneter dipengaruhi secara tidak langsung oleh market structure melalui efisiensi perbankan?? Nah, karena banyak hal terkait dengan market structure, lebih baik isu ini dipelajari dulu sebelum menghimbau bank untuk terus melakukan merger; atau marah-marah karena perbankan didominasi bank besar. 

Segini dulu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s