Conundrum perbankan Indonesia

Standard

                                                               
   Saya sering baca tentang bagaimana “tulalit”nya BI rate dengan suku bunga bank, khususnya suku bunga kredit. BI rate sudah turun berkali-kali, sudah rendah tapi suku bunga kredit masih terhitung tinggi. Selisih suku bunga kredit dan dana (margin atau spread) besar. Monetary transmission melalui jalur kredit tampaknya tidak efektif, tidak direspon perbankan. Perbankan (bank-bank besar?), sebetulnya sudah lama, dibilang tidak mau mengucurkan kredit. Lalu ada tuduhan “kartel”, oligopoli…

Mungkin karena jengkel atas “sikap” perbankan, otoritas pengawas mengeluarkan peraturan tandem LDR-GWM dan peraturan transparansi suku bunga. Maksudnya supaya bank mau turunkan suku bunga, ekspansi kredit dan mendorong ekonomi tumbuh sesuai kapasitas. Tapi serunya, bankir bank besar malah bilang “lebih baik aku dipinalti daripada nambah rasio LDR”….

Ini coret-coret mengenai kebijakan moneter atau transmisi moneter yang menurut saya ada kaitannya dengan kondisi perbankan. Yang dimaksud “kondisi” itu ya macam-macam: kompetisi, efisiensi, kinerja… Tadinya saya kira bisa ditulis sekaligus, ternyata harus dipecah jadi beberapa bagian supaya tidak terlalu panjang. Kan catatan kaki…

Apa  yang dianggap masalah?

Kalau mengikuti berita-berita mengenai kondisi perbankan akhir-akhir ini, menurut saya, kayaknya banyak salah kaprah.Mungkin karena ada pengacauan, entah disadari atau tidak, antara mitos dan fakta. Setidaknya ada tiga mitos yang bersliweran mengenai perbankan Indonesia: pertama mitos mengenai transmisi moneter, kedua pembatasan kredit (credit rationing) oleh bank, ketiga struktur industri perbankan Indonesia. Mitos atau tahayul ini membuat orang jadi overanalyzed sekaligus negligence. Yang tidak ada atau belum tentu ada hubungan dihubung-hubungkan. Yang sebetulnya ada hubungan malah tidak dibicarakan.

Coret-coret tentang perbankan Indonesia- yang tidak perlu dianggap terlalu serius ini- akan dimulai dari pamer gambar suku bunga. Bukankah yang diributkan adalah suku bunga? Catatan mengenai  transmisi moneter dan alasan kenapa bank mogok memberi pinjaman akan diposting terpisah. Karena masalah konsentrasi-kompetisi perbankan ada kaitan dengan dua hal yang pertama, coret-coret mengenai masalah ini ada di dua posting itu. Mungkin suatu hari akan dibikin posting tersendiri.

Seperti membuka kaleng penuh cacing…

Sebetulnya, ketiga “tahayul” itu terkait satu sama lain, trade off optimal susah dicapai.   Mungkin sama seperti menghadapi penderita dengan sakit macam-macam. Diobati disini punya efek jelek di sebelah sana; diobati sana, ada efek negatif disebelah sini. Conundrum…suatu hal yang sulit dicari solusinya.

Mengenai transmisi moneter, misalnya. Ada “mitos” kalau bank sentral mengubah (naik atau turun) suku bunga, bank komersiil harus segera ikut menyesuaikan bunga tabungan dan kredit. Faktanya, kemampuan bank komersiil untuk mengikuti sinyal bank sentral kadang-kadang terbatas. Kinerja bank, peraturan perbankan, persaingan antar bank juga memengaruhi keberhasilan transmisi moneter. Di sisi perbankan, kesulitan untuk mentransmisikan kebijakan moneter, kadang diluar kendali mereka. Maksudnya, biarpun perbankan sehat walafiat tidak ada masalah, transmisi moneter tetap bisa tidak efektif. Misalnya kalau bank menganggap resiko kredit debitor meningkat, kemungkinan bank akan melakukan pembatasan kredit. Investasi bank akan dilakukan dalam bentuk lain.

Saya mulai dengan pamer gambar lending rate dulu. Data didapat dari World Bank http://data.worldbank.org/indicator . Selama ini yang diributkan adalah bunga kredit yang tinggi. Apa betul lending rate Indonesia paling tinggi?   Ini gambar perbandingan lending rate Indonesia dengan Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam dan Vanuatu. Paska krisis, suku bunga pinjaman negara-negara yang mengalami krismon 1997/1998 (Malaysia, Thailand, Pilipina) ternyata punya tren yang berbeda dengan Indonesia . Vietnam dan Vanuatu saya ikutkan karena World Bank menganggap keduanya punya peringkat Doing Business lebih baik dari Indonesia. Peringkat Doing Business jadi pertimbangan karena perbankan memberi kredit biasanya kepada sektor riil. Kalau iklim berusaha tidak investor friendly, bankir akan was-was melepas uang karena investor juga tidak bisa menjalankan bisnisnya dengan nyaman (lihat http://doingbusiness.org/).

Wah, dari gambarnya, kayaknya iya; memang perbankan Indonesia keterlaluan karena lending rate tidak kompetitif dibanding negara lain. Indonesia tidak sendirian. Tren bunga kreditVietnam mulai tahun 2007 (garis oranye) sebetulnya cenderung meningkat.

Bagaimana dengan interest spread; selisih antara bunga kredit dan dana? Kalau gambarnya dilihat, spread perbankan Indonesia juga tinggi. Sejak 2003 selisih bunga kredit dan bunga pinjaman perbankan Indonesia cukup tinggi kalau dibandingkan dengan negara lain (bandingkan dengan periode sebelum krismon). Vietnam dan Malaysia memiliki spread relatif rendah.  Namun perlu diingat, spread rendah belum tentu suku bunga dana juga rendah. Kan bisa saja suku bunga dana dan kredit tinggi, seperti yang dialami perbankan Indonesia tahun 1991. Waktu itu bunga kredit sampai 25,5%. Tapi spread termasuk rendah, cuma sekitar 2,2%.

 Kenapa suku bunga kredit bisa seperti ini ya, padahal BI rate sudah turun terus? Gambar lending rate, dasarnya adalah data suku bunga nominal. Kalau memasukkan unsur inflasi, namanya suku bunga riil. Coba dilihat dulu gambar inflasi atau Consumer Price Index…. (Data World Bank tidak sama dengan data inflasi BPS; mungkin karena penggunaan tahun dasar yang berbeda).

Menurut saya sih membandingkan dua gambar barusan itu menarik. Lending rate tinggi, walau bank sentral sudah menurunkan suku bunga. Tapi ternyata inflasi Indonesia tertinggi diantara negara-negara tetangga. Sekali lagi, Vietnam merupakan pengecualian.

Lho tapi bukankah pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk bagus? Apalagi waktu ada krisis global 2008 itu?? Angka GDP growth Indonesia 2008 memang positif 4,5% sementara negara-negara tetangga negatif. Tapi angka inflasi-Consumer Price Index (menurut data World Bank) juga positif 8%. Diantara negara pembanding, angka inflasi Indonesia tahun 2008 juga paling tinggi.

Dari gambar-gambar tadi, bisa disimpulkan kurang lebih begini: lending rate memang tinggi tapi ternyata inflasi Indonesia juga tergolong tinggi. Bagaimana dengan gambar suku bunga pinjaman riil? Dengan memperhitungkan inflasi-Consumer Price Index, apa betul lending rate perbankan Indonesia paling tinggi? Berikut ini gambarnya…


Kalau dari gambar  suku bunga riil, lending rate  perbankan Indonesia, setidaknya sejak tahun 2005 bukan yang tertinggi. Tahun 2009, Malaysia punya lending rate riil lebih tinggi dari Indonesia. Saya bukan ekonom,  juga bukan bankir. Tapi kira-kira saja, cara berpikir bankir itu mestinya menimbang inflasi juga. Lha kalau inflasinya juga tinggi, masak musti kasi pinjaman dengan bunga setara dengan tingkat inflasi? Orang menabung saja sebetulnya rugi kalau bunga lebih rendah dari inflasi.

Inflasi, pertumbuhan ekonomi, bunga kredit tinggi: ada hubungannya??

Katanya, kalau bank sentral mengubah suku bunga, hal itu dilakukan untuk memengaruhi agregat ekonomi,  mengendalikan inflasi dan nilai tukar. Setau saya inflasi juga bisa disebabkan karena permintaan barang tinggi, tapi barang kurang. Contoh yang mudah adalah kelangkaan cabai tempo hari memicu harga cabai menjadi Rp 100.000 sekilo. Sampai ada usulan mengeluarkan cabai dari kelompok barang yang jadi indikator inflasi. Itu baru cabai, yang akhirnya bisa turun harga karena cabai impor masuk.  Selain itu, cabai, biarpun harga bergejolak, tidak membuat bankir pusing menyesuaikan bunga kredit untuk petani. Bisa dibayangkan bagaimana kalau hal itu terjadi pada komoditi yang lebih esensial dan melibatkan perbankan.

Seandainya saja cabai itu bisa diawetkan tanpa mengurangi kesegaran, pedas, dan rasa, mungkin harga cabai bisa lebih stabil. Seandainya saja cabai bisa diawetkan dan tersedia dimana-mana (seperti garam) pasti tidak perlu bikin ibu rumah tangga kalang kabut karena harga melonjak. Dengan mengambil analogi sederhana gejolak harga cabai, saya pikir kalau saja barang yang lebih esensial tersedia banyak, harga tidak akan naik karena permintaan meningkat. Tapi barang tidak banyak karena investasi kurang. Apakah investasi kurang atau penanaman modal kurang hanya gara-gara bunga kredit tinggi? Menurut saya, mestinya ada faktor lain yang memengaruhi; faktor ini diluar kendali perbankan maupun BI sebagai otoritas pengawas. Misalnya keamanan, kestabilan politik, penegakan hukum, peraturan yang investor friendly, dst. Survey “Doing Business” yang dilakukan World Bank sejak tahun 2004 (http://doingbusiness.org/rankings) ternyata menempatkan Indonesia di rangking 115 (survey 2010) dan 121 (survey 2011) dari 183 negara yang disurvey. Dibandingkan dengan lima negara yang saya pakai datanya di gambar-gambar di atas, Indonesia hanya “bersaing” dengan Pilipina (rangking 148 disurvey 2011).  Negara-negara lain (Malaysia, Thailand, Vanuatu dan Vietnam) mendapat peringkat jauuuuh lebih baik. Tanya kenapa???

Ini ada gambar-gambar yang membandingkan antara GDP growth dengan inflasi-Consumer Price Index. Memang memacu pertumbuhan ekonomi sambil mengendalika inflasi itu tidak mudah. Tapi lagi-lagi, dibandingkan Thailand dan Malaysia, ternyata Indonesia punya pola GDP growth-inflasi yang berbeda. Secara umum, sejak tahun 1960an atau 1970an kedua negara ini, punya catatan GDP growth yang lebih tinggi dari inflasi. Ekonomi Indonesia lebih mirip Pilipina. Jadi kalau membandingkan dengan Thailand dan Malaysia itu boleh-boleh saja sebagai pemacu semangat. Tapi kenyataannya, ekonomi Indonesia (setidaknya dari data yang saya gambar) tidak punya catatan GDP growth lebih tinggi dari inflasi atau CPI; kecuali antara tahun 1989-1991.  

Berikut ini gambar-gambar perbandingan antara GDP growth dan inflasi-Consumer Price Index (inflasi juga bisa dihitung sebagai GDP deflator…hasilnya agak beda). Gambar ditampilan berpasangan, Indonesia dengan Pilipina; Malaysia dengan Thailand. Vanuatu dan Vietnam ikut saya tampilkan karena kayaknya prestasi ekonomi mereka beberapa tahun terakhir ini lumayan baik.

Ini gambar Indonesa dan Filipina (di bawah). Harapannya tentu saja, garis merah (GDP growth)  lebih tinggi dari garis biru (CPI)

Dua gambar yang  berikut ini gambar Malaysia dan Thailand. Bisa dilihat bedanya dengan Indonesia dan Filipina…

Yang terakhir ini  Vietnam dan Vanuatu. Nampaknya Vanuatu masih lebih baik dibanding Vietnam….


Bunga kredit tinggi bukan masalah tunggal

Saya bukan ekonom, cuma seneng ngumpulin angka lalu di-excel. Menurut saya, suku bunga kredit Indonesia relatif tinggi, salah satu sebabnya karena inflasi. Bank Sentral memberi sinyal ekspektasi inflasi turun, tapi nyatanya inflasi terus mengintai. (Sebetulnya apa ini tanda juga bahwa inflasi tidak sepenuhnya bisa dikendalikan bank sentral ya??).  Perbankan diminta ekspansi kredit (karena BI rate sudah turun terus) tapi “syaratnya” banyak: non-performing loan musti tetap rendah, rasio modal dijaga. Sudah begitu dalam waktu yang tidak terlalu lama akan ada aturan baru Basel III untuk bank…jangan-jangan diminta tambah modal lagi. Padahal setiap kali bank meningkatkan kredit, bank juga harus meningkatkan modal atau menyediakan modal yang cukup. Kalau tidak, rasio modal bank akan merosot. Artinya, peraturan bank juga ada pengaruhnya pada kemampuan bank ekspansi kredit, kemampuan bank mentransmisikan kebijakan moneter.

Bank tentu saja harus ekspansi kredit karena itu sumber pendapatan utama. Karena banyak konstrain, mungkin, perbankan Indonesia mengatasinya dengan cara mengubah komposisi portfolio. Perubahan ini, apa boleh buat, bagus untuk kinerja bank tapi tidak terlalu mendukung kualitas pertumbuhan ekonomi. Istilah orang pinter disini: pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas karena lebih ditopang oleh konsumsi. Kredit yang kira-kira kecil resiko macetnya dipromosikan gencar; tapi yang agak besar ditinggalkan.  Masalah timbul karena kredit dengan resiko macet kecil biasanya kredit konsumsi (misal kredit perumahan, kartu kredit), kredit untuk usaha kecil/menengah. Kredit kecil semacam ini terkenal punya monitoring cost yang tinggi. Karena biaya mahal, otomatis “harga jual”(bunga kredit)  juga mahal. Mungkin karena akhir-akhir ini portfolio kredit didominasi kredit mahal, bunga kredit bank jadi tinggi. Gambar dibawah ini mungkin bisa lebih menjelaskan:

 

Catatan:Data dari 1985-1995 saya dapat bukan dari angka statistik tapi dari narasi laporan tahunan BI. Akibatnya angka-angka mungkin tidak terlalu tepat. Bagian data kedua dari tahun 2000-2010 saya dapat dari data di web BI. Jadi angka-angkanya lebih akurat. Data 1995-2000 belum didapat…hehe

Dari gambar itu, jelas kelihatan pergeseran porsi kredit perbankan. Kredit konsumsi meningkat sampai sekitar 30%. Kredit modal kerja masih dominan, tapi cenderung turun bahkan dibawah 50%. Demikian pula dengan kredit investasi, selama sepuluh tahun terakhir cenderung stagnan sekitar 20%. Tidak perlu tanya lagi “ada apa”? Ingat-ingat saja hasil survey “Doing Business” World Bank… (Saya  tebak, kalau kredit bank dilihat per sektor ekonomi, akan kelihatan juga pergeserannya ke sektor/industri yang dianggap beresiko tinggi atau berbiaya tinggi).

Kalau dilihat dari gambar di atas, awal 1990an porsi kredit modal kerja tinggi, kredit konsumsi hanya sekitar 10%. Tapi kalau diingat-ingat, suku bunga kredit  tinggi juga…? Yang jelas, setau saya, kondisi industri perbankan dan ekonomi saat itu beda dengan sekarang. Kredit macet, permodalan bank…paska krismon kondisi perbankan lebih baik. Kalau inefisiensinya sih sama, persistent. Bedanya lagi, dulu sedikit-sedikit ada “gebrakan ekonomi” misalnya mengharuskan BUMN mengkonversi dana di bank pemerintah jadi SBI…nah akhirnya bunga jadi tinggi karena bank pemerintah kekurangan uang. Begitu kira-kira….

Sekian dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s