Category Archives: efisiensi perbankan

Perbankan Indonesia tidak efisien? (Kisah BOPO dan saingannya)

Standard

Belum lama ini saya baca berita, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bilang, efisiensi perbankan Indonesia kalah sama Malaysia dan Singapura, bahkan Vietnam(http://tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2011/03/09/brk,20110309-318865,id.html) . Katanya,  rasio BOPO Indonesia (Biaya Operasi/Pendapatan Operasi) sekitar 80%, tertinggi dibandingkan tiga negara itu. Artinya, perbankan Indonesia paling tidak efisien.

Sebetulnya, setau saya,  isu rendahnya efisiensi perbankan Indonesia itu bukan berita. Dari dulu, bahkan jauh sebelum krisis moneter, memang begitu: tingkat efisiensinya rendah. Tentu saja perlu dicari penyebabnya. Apalagi, otoritas pengawas telah berusaha mendorong bank meningkatkan efisiensi melalui merger. Kenyataannya, merger sudah terjadi, masih juga tidak efisien.

                   http://www.cartoonstock.com/directory/c/cost-cutting.asp 

Sebelum coret-coret untuk menjawab pertanyaan “mengapa perbankan Indonesia tidak efisien”, ada baiknya bikin pertanyaan ini: “layakkah membandingkan efisiensi perbankan Indonesia dengan Vietnam (atau Malaysia atau Singapura)?” Pertanyaan lain yang juga bisa diajukan “bagaimana metode penghitungan ‘efisiensi perbankan’ yang tepat?” Lebih spesifik lagi: “apakah rasio BOPO satu-satunya alat ukur efisiensi perbankan?”

Tepatkah membandingkan BO dengan PO?

Rasio BOPO sebenarnya tidak terlalu akurat menggambarkan efisiensi bank.  Ada yang bilang, rasio ini populer dipakai karena sederhana dan mudah dimengerti; tapi BOPO bisa menyesatkan. Hal ini disebabkan, BOPO tidak mempertimbangkan 3S: Strategy, Shape, Scale (http://www.fool.com/investing/dividends-income/2006/12/14/bank-efficiency-measure-with-care.aspx). Intinya, Strategi bisnis, jenis/lini bisnis (business mix) dan skala bisnis akan mempengaruhi BO (Biaya Operasi) dan PO (Pendapatan Operasi). Rasio akhirnya tidak terlalu mencerminkan kinerja karena dengan mempertimbangkan 3S, BO akhirnya relatif terhadap PO dan sebaliknya.

Tentu saja kelemahan rasio BOPO tidak bisa diartikan rasio ini tidak berguna sama sekali. Setau saya, rasio ini masih banyak dipakai sebagai indikator seberapa efisien bank menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan. Jadi kalau ada periset membuat model regresi “kinerja bank”, dan salah satu variabelnya adalah efisiensi, biasanya yang dipakai ya rasio BOPO ini.  Akan tetapi kalau penelitian dilakukan khusus untuk mengukur atau membandingkan “efisiensi perbankan” atau mencari tau faktor yang memengaruhi efisiensi , peneliti biasanya menggunakan metode lain, bukan rasio BOPO.

Mengukur efisiensi dari perspektif proses produksi

Konon, bisnis perbankan bisa dilihat sebagai proses produksi macam pabrik. Artinya ada input, ada output. Dengan pengertian ini, akan ada kombinasi sekian banyak input yang akan menghasilkan output secara optimal. Dengan menggunakan metode ini (sementara saya sebut metode non-BOPO), ada titik optimum dimana input seminim mungkin bisa menghasilkan output maksimal. Titik optimum ada di satu kurva namanya “efficient frontier” atau “production frontier”. Titik itulah kondisi ideal efisiensi perbankan atau bank. Tentu saja, tidak semua bank bisa mencapai kondisi optimal atau kondisi ideal. Setau saya, biasanya bank-bank  hanya bisa “mendekati” titik optimum, misal 90%. Artinya, bank ini telah mencapai kapasitas 90% dari potensi efisiensinya. Semakin mendekati titik ideal efisiensi semakin bagus dan sebaliknya. 

Pengukuran dengan metode non-BOPO menggunakan data atau informasi keuangan; sama dengan pengukuran dengan rasio BOPO. Bedanya, data itu diolah lagi dengan software khusus (http://www.economicsnetwork.ac.uk/cheer/ch15_1/dea.htm).   Jadi, tidak sekedar bikin rasio.

BOPO dan “metode non-BOPO” untuk perbankan Indonesia

Secara sederhana, perbedaan antara metode BOPO dan non-BOPO bisa dianalogikan begini. Ada tiga orang A,B dan C dengan berat badan masing-masing 50, 60, 80 kilogram. Tanpa mempertimbangkan data lain, kita bisa memberikan label siapa paling kurus, siapa paling gemuk. Rasio BOPO seperti itu. A yang beratnya 50 kilo akan dibilang paling kurus karena paling ringan.  Kalau dirata-rata berat ketiga orang itu 63 kilogram; B juga akan dibilang “memiliki berat dibawah rata-rata.  Tapi apa betul begitu? Belum tentu. Bisa jadi yang punya berat badan 50 kilo ini dibilang obesitas kalau usianya masih 10 tahun, atau tinggi hanya 130 cm. Bisa juga C, yang beratnya 80 kilo, dibilang kurus kalau profesinya adalah atlet sumo. Metode non-BOPO mengukur seberapa jauh kondisi bank dari titik ideal. Bila diterapkan di berat badan ketiga orang itu kira-kira begini. B, dengan berat badan 60 kilo, ternyata punya tinggi badan 155cm, wanita; jadi berat badan dapat dibilang ideal. A, berat badan 50 kilo, ternyata anak umur 10 tahun; jadi harus diet ketat untuk me nurunkan berat badan sekitar 15-20 kilo. Tentu saja, kalau dibandingkan, kondisi A lebih buruk dari B karena lebih jauh dari berat badan ideal. Dengan kata lain, membandingkan efisiensi beberapa kelompok bank dengan metode non-BOPO sebenarnya membandingkan “seberapa jauh efisiensi satu kelompok bank dengan kondisi ideal kelompok bank yang sama, bukan dengan kelompok bank lain”.

Setau saya ada dua macam metode non-BOPO yang sering dipakai untuk ukur efisiensi perbankan: pendekatan parametric dan non-parametric. Paramatric pakai konsep dasar ekonometri. Peneliti bikin model statistik.  Stochastic Frontier Analysis, misalnya, adalah pendekatan parametric. Model statistik memiliki keterbatasan karena didasarkan pada sejumlah asumsi. Kalau peneliti tidak mau bikin model, dipakai pendekatan non-parametric. Data Envelopment Analysis (DEA) adalah pendekatan non parametric yang sering digunakan.

Baik metode parametric maupun non-parametric memiliki konsep yang sama, yaitu mengukur efisiensi perbankan dari perspektif proses produksi. Efisiensi, dengan pendekatan ini, ada bermacam-macam. Ada cost efficiency, ada revenue efficiency, profit efficiency. Dongengan atau cerita-cerita mengenai metode parametric dan non parametric amat-sangat-banyak sekali dan terus berkembang. Mungkin karena bisa diaplikasikan dimana-mana, tidak terbatas perbankan, masalah “produktivitas” sudah jadi sub disiplin ilmu  tersendiri.  (Kalau ada yang berminat baca, bisa ke web http://www.ssrn.com atau Google Scholar dan ketik “bank efficiency”.) Banyak negara dan kelompok negara dijadikan obyek penelitian pengukuran efisiensi perbankan dengan metode parametric/non parametric ini. Termasuk Indonesia dan negara-negara tetangga.

Lalu bagaimana hasilnya? Apakah pengukuran efisiensi dengan metode parametric/non parametric berbeda dengan pengukuran BOPO? Jawabannya mungkin tergantung penelitian yang dibaca. Tapi ada satu penelitian dengan judul Ownership structure and bank efficiency in the Asia Pacific region, yang membandingkan efisiensi perbankan kawasan Asia Pasifik paska krisis moneter 1997/1998 (http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1244163) . Penelitinya menggunakan Data Envelopment Analysis, dan menerapkannya pada data 1999-2004 di Hong Kong, Korea, Malaysia, Indonesia, Thailand, Pilipina. Mereka menemukan efisiensi perbankan Indonesia terendah kedua dibandingkan negara-negara lain. Ada lagi penelitian dengan menggunakan data perbankan Indonesia tahun 2007  (http://www.lboro.ac.uk/departments/sbe/RePEc/lbo/lbowps/Ind_recent.pdf). Hasilnya serupa, efisiensi perbankan Indonesia berkisar 67% dari efisiensi optimal. Peneliti Malaysia juga ada yang membandingkan efisiensi perbankan negara-negara ASEAN. Abdul Karim M Zaini meneliti perbankan Indonesia, Malaysia, Pilipina dan Thailand dengan menggunakan data tahun 1989-1996. (Sayang, paper-nya pak Abdul ini tidak dalam bentuk pdf dan tidak “reader friendly” http://www.allbusiness.com/finance/836837-1.html). Temuannya, diantara keempat negara itu, yang paling rendah tingkat inefisiensinya adalah Thailand. Malaysia di posisi kedua, diikuti Indonesia dan Pilipina. Jadi nampaknya, perbankan Indonesia sebelum dan sesudah krisis moneter memang tidak efisien.

Sampai disini pasti ada yang tertawa: lha lalu untuk apa ngomong panjang lebar mengenai kelemahan rasio BOPO kalau toh diukur dengan metode yang lebih canggih pun hasilnya sama??

Saya akan tunjukan tabel yang menarik, diambil dari salah satu penelitian yang saya sebut di paragraf di atas (http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1244163) ,  halaman 18  : Presentation (sorry nih dijadikan image tidak bisa, tapi di klik saja).

Intinya begini: Di tabel itu ada rasio OOE yaitu operating expense dibandingkan dengan total assets. Memang sayang tidak ada rasio BOPO.  Selain itu, penelitian ini menggunakan data tahun 1999-2004 bukan data 2008 seperti yang disebut KPPU . Tapi mari dilihat dan dibandingkan rasio OOE dengan hasil penelitian mereka. OOE rata-rata adalah 0.88%; intepretasi saya, semakin kecil prosentase semakin bagus. Artinya untuk mendapatkan aset tertentu bank mengeluarkan biaya operasi minim.  Indonesia, yang dibilang paling tidak efisien kedua setelah Pilipina, ternyata punya rasio OOE kecil yaitu 0.29% (dibawah rata-rata). Korea, yang dibilang terbaik, justru punya OOE lebih besar dari Indonesia 0.64%. Memang ada rasio yang konsisten (sekali lagi, ini bukan rasio BOPO): biaya operasional perbankan Pilipina 2.13% dari total asetnya.

Perbankan Vietnam lebih efisien dari Indonesia?

Temuan penelitian efisiensi perbankan Vietnam lebih bervariasi. Tidak seperti penelitian efisiensi perbankan Indonesia yang konsisten menempatkan perbankan dalam negeri sebagai “runner up juru kunci efisiensi”.  Nampaknya, hasil penelitian efisiensi perbankan Vietnam dipengaruhi sekali oleh data : jumlah bank, tahun observasi, dan sifat studi. Penelitian cross country (membandingkan Vietnam dengan negara lain) menyimpulkan bank Vietnam paling tidak efisien dibanding negara-negara lain (http://www.eria.org/pdf/research/y2009/no1/Ch10-DEI01.pdf).    Akan tetapi penelitian khusus mengukur efisiensi bank di Vietnam pada tahun tertentu, menghasilkan aneka kesimpulan. Ada yang bilang bank Vietnam sangat efisien (http://mpra.ub.uni-muenchen.de/27882)  , ada yang bilang sebaliknya (http://www.vdf.org.vn/Doc/2007/BookMar07_Tech_EChapter5.pdf ). 

Kesimpulannya??

Rasio keuangan BOPO berguna untuk memberikan gambaran umum mengenai efisiensi perbankan. Kalau dibilang perbankan Indonesia paling tidak efisien dibandingkan negara tetangga, mungkin ada benarnya. Tapi, negara tetangga yang memiliki rasio BOPO kecil, belum tentu “lebih dekat dengan titik efisiensi optimal”. Jadi kalau KPPU mau membandingkan efisiensi perbankan Indonesia dengan perbankan Vietnam, sebaiknya pakai metode parametric/non-parametric saja.

Biasanya, hasil penelitian mengenai efisiensi perbankan juga membahas mengenai “faktor yang mempengaruhi inefisiensi”. Ada yang menyebut regulasi sebagai biang keladi ketidakefisienan, teknologi, struktur kepemilikan, dst. Menurut saya, yang harus diingat, “faktor yang mempengaruhi” tidak sama dengan “penyebab”.  Jadi kita harus hati-hati mengintepretasikan hasil analisa maupun hasil penelitian efisiensi perbankan.

Segini dulu, lain kali sambung lagi coret-coret tentang  “mengapa perbankan Indonesia tidak efisien”.